Langsung ke konten utama

The Night Journey (Al-Isra’ wal Mi’raj) — Makna, Sejarah & Hikmah

Ilustrasi simbolis peristiwa Isra wal Mi’raj dengan cahaya ilahi dan Masjidil Aqsa di malam hari

Pendahuluan

Peristiwa Isra Mi’raj merupakan salah satu momen paling agung dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan pengalaman spiritual yang memperlihatkan kedudukan Nabi Muhammad SAW di sisi Allah SWT. Dalam satu malam, Rasulullah SAW diperjalankan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Isra), lalu dinaikkan ke langit hingga Sidratul Muntaha (Mi’raj). Peristiwa ini menjadi fondasi penting bagi pemahaman umat Islam tentang iman, shalat, dan hubungan hamba dengan Tuhannya.


Konteks Sejarah dan Kondisi Rasulullah SAW

Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (Tahun Kesedihan), ketika Nabi kehilangan dua sosok penopang dakwahnya: Khadijah RA dan Abu Thalib. Penolakan dan tekanan dari kaum Quraisy semakin keras, bahkan perjalanan dakwah ke Thaif berujung pada penolakan dan luka fisik. Dalam kondisi psikologis dan spiritual yang berat inilah Isra’ Mi’raj terjadi, bukan sebagai pelarian, tetapi sebagai bentuk penguatan ilahi atas misi kenabian yang diemban Rasulullah SAW.

Peristiwa ini menunjukkan bahwa Isra’ Mi’raj tidak berdiri sendiri sebagai mukjizat luar biasa, melainkan memiliki konteks sejarah yang kuat. Allah memperlihatkan kepada Rasul-Nya bahwa pertolongan dan kemuliaan tidak selalu hadir dalam bentuk kemenangan duniawi, tetapi juga melalui penguatan iman dan visi kenabian.


Latar Belakang Peristiwa Isra Mi’raj

Isra Mi’raj terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah SAW, dikenal sebagai ‘Aamul Huzn (Tahun Kesedihan). Pada masa ini, Nabi kehilangan dua sosok penting dalam hidupnya: Khadijah RA dan Abu Thalib. Tekanan dakwah, penolakan kaum Quraisy, serta luka batin akibat penindasan menjadikan Isra Mi’raj sebagai bentuk penghiburan dan penguatan langsung dari Allah SWT kepada Rasul-Nya.

Allah memperjalankan Nabi Muhammad SAW sebagai tanda bahwa pertolongan-Nya selalu datang, bahkan di saat manusia berada di titik terendah.


Isra: Dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

Dalam peristiwa Isra, Nabi Muhammad SAW melakukan perjalanan malam dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina dengan menaiki Buraq. Di Masjidil Aqsa, Rasulullah SAW menjadi imam shalat bagi para nabi terdahulu. Hal ini menegaskan posisi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi dan pemimpin seluruh risalah kenabian.

Masjidil Aqsa dalam Isra Mi’raj memiliki makna sentral sebagai simbol kesinambungan dakwah tauhid dari para nabi terdahulu hingga Islam.


Makna Perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa

Perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa mengandung makna simbolik yang mendalam. Masjidil Haram melambangkan pusat tauhid, sementara Masjidil Aqsa merupakan pusat spiritual para nabi terdahulu. Dengan memperjalankan Rasulullah SAW ke Masjidil Aqsa, Allah menegaskan kesinambungan risalah Islam dengan ajaran para nabi sebelumnya. Rasulullah SAW tidak hadir sebagai pembawa agama baru, tetapi sebagai penyempurna risalah tauhid.

Fakta bahwa Rasulullah SAW menjadi imam bagi para nabi di Masjidil Aqsa juga mengandung pesan teologis penting: kepemimpinan spiritual umat manusia kini berada pada risalah Islam. Hal ini memperkuat posisi Nabi Muhammad SAW sebagai penutup para nabi (Khatamun Nabiyyin).


Mi’raj: Naik ke Langit hingga Sidratul Muntaha

Setelah Isra, Rasulullah SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj, naik menembus tujuh lapis langit. Di setiap langit, beliau bertemu para nabi seperti Nabi Adam AS, Nabi Isa AS, Nabi Musa AS, hingga Nabi Ibrahim AS.

Puncak Mi’raj adalah Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang tidak bisa dijangkau makhluk mana pun selain Rasulullah SAW. Di sinilah Nabi menerima perintah shalat secara langsung dari Allah SWT, tanpa perantara malaikat.


Dialog Spiritual di Langit dan Makna Ujian Keimanan

Perjalanan Mi’raj tidak hanya memperlihatkan keagungan ciptaan Allah, tetapi juga menjadi ujian keimanan bagi umat manusia. Ketika Rasulullah SAW menyampaikan peristiwa ini kepada kaum Quraisy, sebagian besar menolaknya dan menganggapnya mustahil. Namun bagi orang-orang beriman, Isra’ Mi’raj justru menjadi bukti kekuasaan Allah yang tidak dibatasi oleh hukum fisika manusia.

Sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang langsung membenarkan Rasulullah SAW tanpa ragu menjadi teladan iman sejati. Dari sinilah gelar Ash-Shiddiq diberikan kepadanya. Isra’ Mi’raj mengajarkan bahwa iman bukan sekadar logika, tetapi keyakinan penuh terhadap kebenaran wahyu.


Perintah Shalat dan Maknanya

Awalnya, shalat diwajibkan sebanyak 50 kali sehari semalam. Atas saran Nabi Musa AS, Rasulullah SAW memohon keringanan hingga akhirnya ditetapkan menjadi lima waktu, namun dengan pahala setara lima puluh.

Ini menunjukkan bahwa shalat bukan sekadar kewajiban ritual, melainkan sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah. Shalat menjadi “Mi’raj”-nya orang beriman.


Reaksi Kaum Quraisy dan Ujian Iman

Ketika Nabi Muhammad SAW menyampaikan peristiwa Isra Mi’raj kepada kaum Quraisy, banyak yang mencemooh dan menganggapnya mustahil. Namun, Abu Bakar Ash-Shiddiq langsung membenarkan Rasulullah SAW tanpa ragu. Dari sinilah ia mendapat gelar Ash-Shiddiq.

Peristiwa ini menjadi ujian iman: siapa yang beriman berdasarkan logika semata, dan siapa yang beriman berdasarkan keyakinan kepada Allah dan Rasul-Nya.


Pelajaran Spiritual dari Isra Mi’raj

Isra Mi’raj mengajarkan bahwa:

  • Pertolongan Allah datang setelah kesabaran
  • Shalat adalah fondasi utama keimanan
  • Hubungan manusia dengan Allah bersifat langsung dan personal
  • Ujian iman sering datang melalui hal-hal yang melampaui logika manusia

Relevansi Isra’ Mi’raj bagi Kehidupan Modern

Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan, Isra’ Mi’raj memberikan pesan bahwa solusi utama atas kegelisahan manusia adalah kedekatan spiritual dengan Allah. Shalat yang diwajibkan langsung dalam peristiwa Mi’raj bukan sekadar ritual, melainkan sarana penghubung antara manusia dan Tuhannya. Dalam dunia yang serba cepat dan materialistis, shalat menjadi ruang jeda spiritual untuk menjaga keseimbangan jiwa.

Isra’ Mi’raj juga mengajarkan bahwa kemajuan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian teknologi atau materi, tetapi dari kualitas iman dan akhlak. Peristiwa ini menegaskan bahwa spiritualitas harus berjalan seiring dengan kehidupan sosial dan moral manusia.


Rekomendasi Buku & Koleksi Terkait

Rekomendasi Buku & Koleksi Terkait
Bagi yang ingin memperdalam makna Isra Mi’raj dan kehidupan spiritual Nabi Muhammad SAW, tersedia berbagai buku sirah dan kajian tasawuf klasik yang bisa menjadi referensi.

Temukan koleksi lengkap di Daftar Buku dan Referensi.


Rujukan

  • Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1
  • Hadits Shahih Bukhari & Muslim
  • Kitab Al-Mi’raj – Imam Al-Qusyairi
  • Muhammad: Kekasih Allah – Seyyed Hossein Nasr

Disclaimer

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan spiritual. Perbedaan pandangan merupakan bagian dari khazanah keilmuan Islam.


Ditulis Oleh

Adi Mahardika, S.I.Kom
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf


Follow Us:   Facebook   Instagram   TikTok  YouTube    X / Twitter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Gharqad Dan Fakta Media Propaganda

Pendahuluan Dalam sejarah konflik modern, peperangan tidak lagi terbatas pada medan militer. Informasi, narasi, dan persepsi publik telah menjadi senjata strategis yang sama pentingnya dengan tank dan jet tempur. Di era digital, media sosial dan platform teknologi global memegang peran sentral dalam membentuk opini dunia—terutama ketika konflik menyentuh isu kemanusiaan yang sensitif, seperti tragedi di Gaza. Di tengah kemarahan global atas pengepungan dan penghancuran wilayah sipil Gaza, muncul laporan serius tentang bagaimana negara dan korporasi teknologi besar berkolaborasi membangun narasi tandingan. Fenomena ini mengingatkan kita pada simbolisme yang lebih dalam dalam tradisi Islam, salah satunya adalah pohon Gharqad , yang kerap disebut dalam konteks akhir zaman sebagai metafora perlindungan, persembunyian, dan manipulasi kebenaran. Tulisan ini mengulas fakta-fakta yang dilaporkan media internasional mengenai operasi propaganda digital Israel, sekaligus membingkainya...

Golden Dome Dan Ambisi Yakjuj Makjuj

Pendahuluan Dalam era geopolitik modern, konflik teknologi dan militer antarnegara superpower bukan sekadar masalah strategis, melainkan memiliki implikasi eskatologis. Salah satu fenomena yang menarik adalah proyek Golden Dome yang digagas Amerika Serikat sebagai jawaban terhadap kemampuan rudal hipersonik Cina. Dalam perspektif Islam kontemporer, proyek semacam ini dapat dikaitkan dengan visi dan misi Ya’juj dan Ma’juj , yang dalam konteks modern bukan hanya bangsa primitif, tetapi kekuatan peradaban global yang mendominasi sistem dunia melalui teknologi, informasi, dan ekonomi. Bagaimana proyek pertahanan luar angkasa AS ini dapat dipahami dari perspektif geopolitik dan eskatologis? Artikel ini merangkum fakta, analisis, dan pandangan Sheikh Imran Hosein (SIH) dengan pendekatan historis, strategis, dan reflektif. Perang Dunia Amerika vs Cina dan Proyek Golden Dome Pentagon mengungkapkan bahwa AS mengalami kekalahan konsisten dalam simulasi perang melawan Cina. Rudal hipersonik...

Membaca Ya’juj dan Ma’juj dalam Konteks Dunia Modern

Pendahuluan Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu tanda besar menjelang kiamat dalam perspektif Islam. Fenomena ini tidak hanya disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an (QS Al-Kahfi: 94-98), tetapi juga dijelaskan dalam berbagai hadits shahih Nabi Muhammad SAW. Sejak masa ulama klasik hingga pemikir kontemporer, Ya’juj dan Ma’juj menjadi tema penting dalam kajian eskatologi Islam. Salah satu karya modern yang secara khusus membahas fenomena ini adalah buku Ya’juj dan Ma’juj pada Zaman Modern karya Syeikh Imran N. Hosein. Artikel ini merupakan saduran dan penjelasan ulang dari pandangan beliau, ditulis dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami, tanpa mengubah kerangka pemikiran aslinya. Syeikh Imran menegaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj bukan mitos atau sekadar kisah masa lalu, melainkan fenomena nyata, historis, dan relevan dengan dinamika geopolitik serta sistem global di era modern. Latar Belakang dan Asal-Usul Ya’juj dan Ma’juj Al-Qur’an menjelaskan bahwa Ya’...