Langsung ke konten utama

Pohon Gharqad Dan Fakta Media Propaganda

Pendahuluan

Dalam sejarah konflik modern, peperangan tidak lagi terbatas pada medan militer. Informasi, narasi, dan persepsi publik telah menjadi senjata strategis yang sama pentingnya dengan tank dan jet tempur. Di era digital, media sosial dan platform teknologi global memegang peran sentral dalam membentuk opini dunia—terutama ketika konflik menyentuh isu kemanusiaan yang sensitif, seperti tragedi di Gaza.

Di tengah kemarahan global atas pengepungan dan penghancuran wilayah sipil Gaza, muncul laporan serius tentang bagaimana negara dan korporasi teknologi besar berkolaborasi membangun narasi tandingan. Fenomena ini mengingatkan kita pada simbolisme yang lebih dalam dalam tradisi Islam, salah satunya adalah pohon Gharqad, yang kerap disebut dalam konteks akhir zaman sebagai metafora perlindungan, persembunyian, dan manipulasi kebenaran.

Tulisan ini mengulas fakta-fakta yang dilaporkan media internasional mengenai operasi propaganda digital Israel, sekaligus membingkainya dalam analisis geopolitik, media, dan refleksi eskatologis secara proporsional.


Kontrak Israel–Google dan Industri Propaganda Digital

Israel dikabarkan membayar perusahaan teknologi raksasa Google sebesar 45 juta dolar AS untuk menyebarkan informasi yang mendukung mereka, di tengah meluasnya kemarahan dunia atas krisis kemanusiaan di Gaza. Kontrak ini disetujui pada akhir Juni dan berlangsung selama enam bulan.

Periode tersebut bertepatan dengan meningkatnya laporan penembakan warga Palestina yang tengah mengantre bantuan di lokasi yang dikelola Gaza Humanitarian Foundation (GHF), serta serangan udara harian di kawasan sipil. Di saat akses jurnalis internasional dibatasi, ruang informasi global justru dibanjiri konten promosi yang menyajikan gambaran “normalitas” di Gaza.

Salah satu iklan paling sering muncul di YouTube menampilkan warga Palestina yang sedang menyiapkan dan menyantap makanan, diakhiri dengan klaim:

“Ada makanan di Gaza. Pernyataan lainnya adalah kebohongan.”

Narasi semacam ini bukan sekadar iklan biasa, melainkan bagian dari operasi persepsi (perception management)—upaya sistematis untuk menetralkan kemarahan publik dan mereduksi tekanan internasional.


Peran Platform Media Sosial: X, TikTok, dan Influencer

Selain Google, pemerintah Israel juga dilaporkan membayar 3 juta dolar AS kepada platform media sosial X (sebelumnya Twitter). Tujuannya adalah memperluas jangkauan narasi pro-Israel, terutama kepada audiens Amerika.

Menurut laporan DropSite News, Israel bahkan membawa influencer Amerika ke Gaza untuk menyebarkan informasi yang mendukung mereka—pada saat yang sama ketika wartawan internasional dilarang masuk dan jurnalis Palestina kerap menjadi korban kekerasan.

Daftar influencer yang disebutkan mencakup berbagai figur dengan basis pengikut besar di X dan TikTok, antara lain:
Yair Netanyahu, Emily Austin, Debra Lea Schwartzben, Shay Szabo, Lizzy Savetsky, ThatZionistGirl, Destiny Albritton, Emily Talento, Isaac Woodward, Cam Higby, Hannah Faulkner, Liv Layne, Dominique Hoffman, hingga akun-akun dengan identitas ideologis eksplisit.

Fenomena ini menandai pergeseran strategi propaganda: dari media arus utama ke ekosistem influencer, di mana opini dikemas sebagai pengalaman personal, bukan pernyataan politik resmi.


Netanyahu dan Hasbara Digital

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu secara terbuka bertemu dengan para kreator konten Amerika dan memberi pengarahan tentang cara “menggerakkan” opini publik AS. Ia secara implisit mengakui bahwa strategi Hasbara (propaganda tradisional Israel) tidak lagi efektif.

Dalam pernyataannya, Netanyahu menyebut media sosial sebagai “senjata paling penting” saat ini, dengan menekankan TikTok sebagai platform kunci untuk memenangkan dukungan sayap kanan Amerika. Ia juga menyinggung peran X dan Elon Musk, menyebut Musk sebagai “teman” yang perlu diajak berbicara.

Pernyataan ini menggarisbawahi satu realitas penting: perang modern adalah perang narasi. Negara yang mampu menguasai algoritma, influencer, dan platform akan memiliki keunggulan strategis, bahkan ketika fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.


Video: Pohon Gharqad dan Media Propaganda

Untuk membantu memahami keterkaitan antara propaganda digital, simbol Gharqad, dan dinamika akhir zaman secara visual dan naratif, berikut adalah video penjelasan yang merangkum inti pembahasan artikel ini:



Pohon Gharqad: Simbol, Bukan Sekadar Tumbuhan

Dalam hadis akhir zaman, pohon Gharqad sering disebut sebagai pohon yang “melindungi” kaum Yahudi dengan tidak mengungkap keberadaan mereka. Penting untuk dipahami bahwa Gharqad tidak harus dimaknai secara literal sebagai tumbuhan fisik semata. Ia dapat dipahami sebagai simbol sistem perlindungan kekuasaan yang bekerja secara kolektif dan terstruktur.

Dalam konteks dunia modern, “Gharqad” bisa hadir dalam berbagai bentuk: lembaga internasional, negara-negara besar dengan hak veto dan pengaruh global, arsitektur hukum internasional, hingga korporasi dan platform teknologi raksasa yang membentuk opini dunia. Seluruh elemen ini dapat berfungsi sebagai lapisan perlindungan narasi—menyaring realitas, membingkai konflik, dan menentukan versi kebenaran mana yang boleh tampil ke publik.

Dengan demikian, Gharqad bukan sekadar simbol media atau propaganda digital, melainkan metafora peradaban: sebuah sistem global yang secara sadar atau tidak sadar melindungi kepentingan tertentu, sekaligus menutupi penderitaan yang terjadi di hadapan mata dunia.


Media, Algoritma, dan Realitas yang Dipalsukan

Algoritma platform digital tidak bekerja dalam ruang hampa. Mereka dikendalikan oleh kepentingan ekonomi, politik, dan ideologis. Ketika negara mampu membeli ruang promosi, maka kebenaran bersaing langsung dengan anggaran iklan.

Inilah yang membuat konflik Gaza bukan hanya tragedi kemanusiaan, tetapi juga studi kasus propaganda digital terbesar abad ini. Visual yang dipilih, kata yang disusun, dan influencer yang dipromosikan semuanya diarahkan untuk menciptakan kesan bahwa penderitaan yang terlihat hanyalah “narasi alternatif”.

Dalam perspektif eskatologi Islam, pola kebohongan yang terorganisir dan tampak rasional ini selaras dengan karakter Dajjal yang digambarkan bukan sekadar sebagai individu, melainkan sebagai sistem penyesatan yang bekerja tanpa nurani, sebagaimana diuraikan dalam artikel Dajjal dan Simbolisme.


Refleksi Akhir Zaman: Waspada, Bukan Provokatif

Dalam perspektif Islam, akhir zaman bukan hanya tentang peristiwa besar, tetapi juga kaburnya batas antara kebenaran dan kebohongan. Rasulullah SAW mengingatkan akan masa di mana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan.

Fenomena propaganda digital global ini selaras dengan peringatan tersebut. Namun, sikap yang dituntut bukan kebencian atau emosi berlebihan, melainkan kewaspadaan, kecerdasan literasi media, dan keteguhan moral.


Penutup

Kasus kontrak Israel dengan perusahaan teknologi dan operasi influencer global menunjukkan bahwa konflik modern bergerak jauh melampaui medan perang fisik. Ia merambah ke layar ponsel, feed media sosial, dan ruang kesadaran publik.

Pohon Gharqad, dalam konteks ini, dapat dipahami sebagai simbol perlindungan narasi—tempat kebenaran diuji, disembunyikan, atau dimanipulasi. Tugas pembaca bukan sekadar memilih pihak, tetapi memilah informasi dengan akal sehat, etika, dan kesadaran spiritual.


Rekomendasi Bacaan

📚 Untuk pendalaman tema:

  1. Jerusalem in the Qur’an – Sheikh Imran N. Hosein
  2. The Age of Deception – Curtis Bowers
  3. Manufacturing Consent – Noam Chomsky
  4. Perang Informasi dan Media Global – berbagai jurnal geopolitik

Jelajahi buku dan referensi terkait sejarah, tasawuf, geopolitik, dan akhir zaman. Temukan koleksi lengkap di Daftar Buku dan Referensi.


Rujukan

  • DropSite News
  • AFP (Agence France-Presse)
  • Laporan media internasional terkait konflik Gaza
  • Analisis geopolitik dan media digital

Disclaimer

Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi, analisis, dan literasi media. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyebarkan kebencian terhadap kelompok, agama, atau bangsa tertentu. Segala pandangan eskatologis disajikan sebagai refleksi intelektual, bukan klaim absolut.


Ditulis oleh:

Adi Mahardika, S.I.Kom 
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf


Follow Us:   Facebook   Instagram   TikTok  YouTube    X / Twitter


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Golden Dome Dan Ambisi Yakjuj Makjuj

Pendahuluan Dalam era geopolitik modern, konflik teknologi dan militer antarnegara superpower bukan sekadar masalah strategis, melainkan memiliki implikasi eskatologis. Salah satu fenomena yang menarik adalah proyek Golden Dome yang digagas Amerika Serikat sebagai jawaban terhadap kemampuan rudal hipersonik Cina. Dalam perspektif Islam kontemporer, proyek semacam ini dapat dikaitkan dengan visi dan misi Ya’juj dan Ma’juj , yang dalam konteks modern bukan hanya bangsa primitif, tetapi kekuatan peradaban global yang mendominasi sistem dunia melalui teknologi, informasi, dan ekonomi. Bagaimana proyek pertahanan luar angkasa AS ini dapat dipahami dari perspektif geopolitik dan eskatologis? Artikel ini merangkum fakta, analisis, dan pandangan Sheikh Imran Hosein (SIH) dengan pendekatan historis, strategis, dan reflektif. Perang Dunia Amerika vs Cina dan Proyek Golden Dome Pentagon mengungkapkan bahwa AS mengalami kekalahan konsisten dalam simulasi perang melawan Cina. Rudal hipersonik...

Membaca Ya’juj dan Ma’juj dalam Konteks Dunia Modern

Pendahuluan Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu tanda besar menjelang kiamat dalam perspektif Islam. Fenomena ini tidak hanya disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an (QS Al-Kahfi: 94-98), tetapi juga dijelaskan dalam berbagai hadits shahih Nabi Muhammad SAW. Sejak masa ulama klasik hingga pemikir kontemporer, Ya’juj dan Ma’juj menjadi tema penting dalam kajian eskatologi Islam. Salah satu karya modern yang secara khusus membahas fenomena ini adalah buku Ya’juj dan Ma’juj pada Zaman Modern karya Syeikh Imran N. Hosein. Artikel ini merupakan saduran dan penjelasan ulang dari pandangan beliau, ditulis dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami, tanpa mengubah kerangka pemikiran aslinya. Syeikh Imran menegaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj bukan mitos atau sekadar kisah masa lalu, melainkan fenomena nyata, historis, dan relevan dengan dinamika geopolitik serta sistem global di era modern. Latar Belakang dan Asal-Usul Ya’juj dan Ma’juj Al-Qur’an menjelaskan bahwa Ya’...