Pendahuluan
Dalam era geopolitik modern, konflik teknologi dan militer antarnegara superpower bukan sekadar masalah strategis, melainkan memiliki implikasi eskatologis. Salah satu fenomena yang menarik adalah proyek Golden Dome yang digagas Amerika Serikat sebagai jawaban terhadap kemampuan rudal hipersonik Cina.
Dalam perspektif Islam kontemporer, proyek semacam ini dapat dikaitkan dengan visi dan misi Ya’juj dan Ma’juj, yang dalam konteks modern bukan hanya bangsa primitif, tetapi kekuatan peradaban global yang mendominasi sistem dunia melalui teknologi, informasi, dan ekonomi.
Bagaimana proyek pertahanan luar angkasa AS ini dapat dipahami dari perspektif geopolitik dan eskatologis? Artikel ini merangkum fakta, analisis, dan pandangan Sheikh Imran Hosein (SIH) dengan pendekatan historis, strategis, dan reflektif.
Perang Dunia Amerika vs Cina dan Proyek Golden Dome
Pentagon mengungkapkan bahwa AS mengalami kekalahan konsisten dalam simulasi perang melawan Cina. Rudal hipersonik Cina mampu menghancurkan target dalam hitungan menit, memaksa AS mengembangkan sistem pertahanan baru. Calon Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menyatakan:
- Cina memiliki rudal hipersonik yang dapat menghancurkan kapal induk AS dalam 20 menit.
- Dalam semua simulasi perang, AS kalah melawan Cina.
- Cina unggul dalam teknologi militer, terutama rudal hipersonik.
Ketika Trump kembali ke Gedung Putih, proyek Golden Dome diumumkan: ribuan satelit bersenjata di orbit Bumi yang mampu mencegat rudal hipersonik, nuklir, atau orbital sebelum memasuki wilayah AS. Sistem ini dibantu oleh AI canggih dan pertahanan ekstra di lapangan, menandai era baru perang luar angkasa.
Teknologi Golden Dome dan Rudal Hipersonik Cina
- FOBS: Rudal memasuki orbit Bumi parsial dan menyerang target dari arah yang tidak terduga, menghindari radar konvensional.
- HGV: Peluncuran balistik ke luar angkasa, kemudian meluncur kembali ke atmosfer dengan kecepatan ekstrim dan manuver tak terduga.
Pandangan Global dan Kontroversi
Menurut juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina, proyek Golden Dome melanggar prinsip penggunaan damai luar angkasa dan memicu perlombaan senjata. Beberapa catatan penting:
- Membutuhkan ribuan satelit bersenjata untuk menghadapi banyak rudal.
- Risiko serangan balik terhadap satelit tinggi.
- Anggaran sangat besar: antara $161–542 miliar untuk 20 tahun, belum termasuk biaya operasional tambahan.
Analis menekankan bahwa perlombaan senjata ini tidak hanya teknis, tetapi juga politis dan strategis, dengan implikasi global yang luas.
Dalam perspektif eskatologis, proyek Golden Dome sendiri dapat dipahami sebagai manifestasi modern dari visi/misi Ya’juj dan Ma’juj: teknologi dan dominasi sistematis yang mengubah keseimbangan dunia, tanpa menyalahkan negara lain yang terlibat.
Tantangan Teknis dan Biaya Proyek
Menurut laporan American Physical Society, untuk menghentikan satu rudal Korea Utara diperlukan sekitar 400 satelit bersenjata. Jika serangan massal terjadi, ribuan satelit diperlukan. Biaya proyek Golden Dome diperkirakan antara $161–542 miliar selama 20 tahun, jauh lebih tinggi dari klaim awal $175 miliar oleh pihak AS.
Meskipun teknologi ini canggih, risiko serangan balik dari negara-negara lain (Cina, Rusia, Korea Utara) tetap tinggi, menunjukkan kompleksitas geopolitik modern yang tidak dapat diselesaikan hanya dengan superioritas teknologi.
Ambisi Yakjuj Makjuj
Dalam perspektif eskatologi Islam, kekuatan superpower yang menguasai teknologi canggih dan mendominasi dunia memiliki kesamaan dengan visi/misi Yakjuj dan Makjuj. Bukan sekadar ancaman fisik, tetapi dominasi melalui sistem, informasi, dan kekuatan ekonomi.
Golden Dome adalah simbol dari ambisi manusia modern yang mencoba menundukkan dunia melalui teknologi—serupa dengan narasi eskatologis tentang Yakjuj dan Makjuj yang menyebar ke seluruh bumi.
Untuk perspektif eskatologis lebih mendalam, lihat juga artikel kami: Yakjuj dan Makjuj pada Zaman Modern dan Dajjal dan jasad [manusia tanpa jiwa].
Video: Golden Dome dan Ambisi Yakjuj Makjuj
"Narasi visual untuk memahami konsep Golden Dome dan Yakjuj Makjuj pada zaman modern”
Refleksi Eskatologis
Proyek teknologi seperti Golden Dome dapat dipahami dalam kerangka eskatologi Islam sebagai manifestasi modern dari visi/misi Ya’juj dan Ma’juj. Dalam pandangan ini:
- Teknologi canggih yang tampak manusiawi sering dibantu oleh “tangan-tangan Ya’juj Ma’juj” dalam sistem geopolitik global.
- Kekuatan seperti Golden Dome, meski terlihat strategis dan defensif, sebenarnya menunjukkan dominasi peradaban modern atas dunia melalui ilmu, teknologi, dan kendali informasi.
- Fenomena ini dapat dibandingkan dengan strategi Ya’juj Ma’juj pada zaman modern, yang memanfaatkan kemampuan sains dan ekonomi untuk menyesatkan umat manusia.
Rekomendasi Buku
- Yakjuj Makjuj Pada Zaman Modern – Sheikh Imran Hosein
- Almasih, Alquran dan Akhir Zaman – Sheikh Imran N. Hosein
- Dinar Emas dan Dirham Perak – Sheikh Imran N. Hosein
- Metodologi untuk Mempelajari Al-Qur’an – Sheikh Imran N. Hosein
Temukan koleksi lengkap di halaman ini: Daftar Buku Islam Modern
Rujukan
Laporan Media Internasional
Beberapa laporan media global mendokumentasikan perkembangan proyek Golden Dome dan perlombaan senjata AS–Cina:
- South China Morning Post: Mengungkap keunggulan rudal hipersonik Cina dan simulasi perang yang menunjukkan AS kalah.
- AlJazeera: Menyajikan laporan teknis terkait proyek satelit bersenjata dan kritik Cina terhadap perlombaan senjata luar angkasa.
Laporan Pemerintah dan Lembaga Independen
- Congressional Budget Office (CBO): Menyediakan analisis biaya proyek satelit pertahanan, termasuk estimasi anggaran jangka panjang antara $161–542 miliar.
- American Physical Society: Menyoroti kebutuhan ribuan satelit bersenjata untuk menghadapi ancaman rudal hipersonik secara global.
Pandangan Eskatologis
Sheikh Imran Hosein (SIH): Memberikan perspektif eskatologis, menafsirkan proyek teknologi canggih ini sebagai manifestasi modern dari visi/misi Ya’juj dan Ma’juj, kekuatan global yang mempengaruhi peradaban dunia.
Disclaimer
Konten ini disajikan untuk tujuan edukasi dan refleksi. Analisis geopolitik dan eskatologis bersifat opini dan interpretasi sumber-sumber terbuka. Penulis dan platform tidak bertanggung jawab atas penggunaan informasi untuk tujuan lain.
Ditulis Oleh:
Adi Mahardika, S.I.Kom
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf

Komentar
Posting Komentar