Apakah Dajjal benar-benar sosok fisik atau fenomena sistemik yang menguji umat manusia? Artikel ini membahas perspektif Islam modern untuk menjawabnya, menelaah vission Nabi Sulaiman, fase kemunculan, manifestasi fisik, dan dampaknya terhadap dunia kontemporer.
Pendahuluan
Fenomena kemunculan Dajjal dalam perspektif Islam selalu menjadi topik menarik sekaligus penuh perhatian. Dajjal digambarkan sebagai figur eskatologis yang muncul menjelang akhir zaman, menimbulkan fitnah dan ujian bagi umat manusia. Dalam buku Dajjal, The Qur’an, and Awwal Al-Zaman karya Syeikh Imran N. Hosein, Dajjal tidak hanya dipahami sebagai simbol spiritual atau moral, tetapi juga sebagai bagian dari peristiwa besar yang terkait dengan sejarah dunia dan tanda-tanda akhir zaman. Pemahaman yang benar mengenai Dajjal harus selalu dikaitkan dengan konteks Al-Qur’an, Hadis, dan ilmu eskatologi Islam yang mendalam, agar umat tidak tersesat oleh interpretasi keliru atau mitos yang berkembang di masyarakat.^1
Latar Belakang / Asal-Usul
Kemunculan Dajjal adalah bagian dari proses yang dikenal sebagai Awwal al-Zaman, yaitu fenomena yang berkaitan dengan tanda-tanda besar menjelang hari kiamat. Dalam kerangka ini, Dajjal merupakan ujian yang diberikan Allah kepada umat manusia. Ia muncul dengan kemampuan luar biasa, baik secara fisik maupun psikologis, yang mampu menyesatkan orang-orang yang lemah iman. Dajjal bukan sekadar figur tunggal yang beroperasi dalam ruang lokal, melainkan fenomena global yang terkait dengan pergeseran geopolitik, sosial, dan moral umat manusia.^2
Penting untuk membedakan antara mitos dan realitas mengenai Dajjal. Banyak literatur populer menyebutkan Dajjal sebagai sosok bermata satu dengan kemampuan supranatural, tetapi konteks lebih luas justru menekankan peran Dajjal sebagai simbol ujian besar yang memadukan kekuatan spiritual, politik, dan ekonomi. Figur ini ada kaitannya dengan situasi dunia kontemporer, termasuk konflik global, dominasi ekonomi, dan manipulasi ideologi, yang semuanya berpotensi menjadi medan “fitnah” bagi umat Islam.
Secara kronologis, sebelum kemunculan Dajjal, dunia akan mengalami pergeseran signifikan. Peristiwa-peristiwa seperti konflik antara kekuatan dunia, munculnya ideologi menyesatkan, dan penipuan spiritual merupakan prasyarat yang memungkinkan Dajjal tampil sebagai ujian nyata. Dengan memahami pola ini, umat Islam diharapkan bisa mengenali tanda-tanda dan bersiap menghadapi ujian tersebut dengan ilmu dan kesabaran.
Dalam konteks sejarah, Dajjal bukan fenomena baru. Figur ini selalu hadir dalam bentuk simbolis atau aktual sepanjang sejarah manusia. Namun, bentuk dan cara kemunculannya berubah mengikuti kondisi dunia. Hal ini menekankan bahwa pemahaman tentang Dajjal harus dinamis, selalu dikaitkan dengan perkembangan zaman, tetapi tetap berpegang pada sumber primer Al-Qur’an dan Hadis.
Karakteristik Dajjal
Dajjal memiliki ciri-ciri yang menonjol, bukan hanya dari segi fisik, tetapi juga dari kemampuan dan pengaruhnya terhadap umat manusia. Ia mampu memanipulasi persepsi dan keyakinan, menyesatkan mereka yang lemah iman, dan menciptakan kesan sebagai “penyelamat” dunia. Dajjal bukan sekadar figur supranatural, tetapi fenomena yang menggabungkan aspek spiritual, psikologis, dan sosial. Kemampuannya untuk menipu massa menekankan pentingnya kewaspadaan dan pemahaman ilmu agama yang benar.
Dajjal akan muncul di tengah masyarakat global yang terpecah, penuh konflik, dan rawan manipulasi. Dengan kondisi dunia seperti ini, pengaruhnya dapat menyebar luas karena umat mudah tertipu oleh janji-janji palsu dan propaganda ideologis. Karakteristik ini menunjukkan bahwa Dajjal adalah ujian yang kompleks, yang tidak dapat dihadapi hanya dengan kekuatan fisik, tetapi memerlukan kesadaran spiritual dan pemahaman agama yang mendalam.
Kronologi Kemunculan
Sebelum kemunculan fisiknya, dunia akan mengalami serangkaian fenomena yang mempersiapkan medan bagi fitnah besar ini. Pergeseran kekuasaan, dominasi ekonomi, dan penyebaran ideologi yang menyesatkan menjadi tanda-tanda awal. Dajjal tidak muncul tiba-tiba; kehadirannya merupakan puncak dari kondisi dunia yang telah terkoyak oleh ketidakadilan, konflik, dan penipuan moral.
Kemunculannya akan diiringi dengan berbagai bencana spiritual dan sosial. Umat Islam harus memahami tanda-tanda ini agar tidak terjebak dalam pengaruh Dajjal. Pemahaman yang tepat akan membekali manusia untuk tetap teguh dalam iman dan mampu membedakan antara kebenaran dan tipuan.
Vission Nabi Sulaiman dan Persiapan Manusia
Dalam Al-Qur’an, Nabi Sulaiman pernah menerima penglihatan khusus terkait sosok yang kelak akan menguasai dunia dengan tipu daya dan dominasi. Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan di atas singgasananya suatu jasad (yang tergeletak), kemudian ia bertaubat.” (QS. Sad 38:34)^1
Dalam vissionnya, makhluk ini duduk di singgasana, melambangkan kekuasaan yang bersifat menyesatkan dan destruktif. Nabi Sulaiman kemudian berdoa kepada Allah agar diberikan petunjuk untuk menghadapi ujian yang akan datang. Vission ini bukan sekadar prediksi literal, tetapi gambaran simbolis tentang kekuatan destruktif yang akan muncul di akhir zaman.
Fase Kemunculan Dajjal
Hadits shahih dari Imam Muslim menjelaskan bahwa Dajjal akan berada di bumi selama 40 hari, dibagi dalam fase:^2
“… Empat puluh hari. Satu hari seperti satu tahun, satu hari seperti satu bulan, satu hari seperti satu minggu, dan hari-hari lainnya seperti hari-hari kalian biasa.”
Tiga fase utama ini menandakan pergeseran dominasi global:
-
Satu hari seperti satu tahun —Pax Britannica
Era dominasi Inggris sebagai negara adikuasa dunia. Fase ini berlangsung lama dalam sejarah modern, menjadi awal pergeseran kekuasaan global. -
Satu hari seperti satu bulan — Pax Americana
Era dominasi Amerika Serikat secara ekonomi, militer, dan budaya, mempengaruhi sistem politik dan ekonomi global. -
Satu hari seperti satu minggu — Pax Judaica
Fase terakhir sebelum manifestasi fisik Dajjal: dominasi Israel sebagai kekuatan tersisa menyiapkan panggung global bagi fitnah terbesar. Dalam pandangan SIH, fase ini bukan sekadar politik, tetapi pergeseran sistem global berpusat di Jerusalem.
Fase-fase ini bersifat metaforis: ukuran “tahun”, “bulan”, atau “minggu” menunjukkan percepatan dan intensitas ujian, bukan waktu literal. Setelah fase Pax Judaica mencapai puncak, manifestasi nyata Dajjal sebagai pemimpin simbolik akan tampak di dunia, menandai ujian besar bagi umat manusia sebelum fase akhir zaman.
Dajjal Sebagai Jasad Manusia Tanpa Jiwa
Dajjal digambarkan sebagai manusia, keturunan Yahudi, yang menjadi ujian besar bagi umat manusia. Ciri-cirinya dalam hadits, seperti bermata satu, bukan literal, melainkan simbolis: menunjukkan “kebutaan mata hati” secara hakikat. Fenomena Dajjal adalah manifestasi kekuasaan destruktif yang menyesatkan, terlihat oleh orang beriman sebagai tanda dan ujian, tetapi tersembunyi bagi yang awam. Realitasnya berupa pengaruh sistemik: dominasi ekonomi, teknologi, ideologi, dan manipulasi sosial secara halus namun meluas.
Dalam perspektif Sheikh Imran N. Hosein, kondisi “jasad manusia tanpa jiwa” ini bukan sekadar kiasan spiritual, melainkan gambaran manusia yang berfungsi dan berkuasa melalui ilmu dan teknologi yang terlepas dari wahyu. Dajjal tetap tampil cerdas, persuasif, dan dominan karena ditopang sistem kecerdasan buatan, rasionalitas instrumental, serta struktur kekuasaan global yang mengedepankan efisiensi tanpa nurani. Dengan demikian, fitnah Dajjal bekerja bukan melalui kekerasan terbuka, melainkan melalui sistem yang tampak normal, modern, dan rasional, namun kehilangan dimensi ruhani yang membimbing manusia kepada kebenaran.
Manifestasi Fisik dan Hubungan dengan Malhamah
Dajjal tetap berada di alam yang berbeda hingga fase akhir Malhamah. Manifestasi fisiknya baru tampak secara nyata setelah perang global terakhir, yang memunculkan krisis sistemik, perang, dan kehancuran tatanan dunia. Fenomena ini bukan kebetulan: semua terjadi dalam kerangka prediksi Al-Qur’an, Hadits, dan tafsir modern.
Dari sini dapat dipahami bahwa “manusia tanpa jiwa” ini muncul bukan sekadar untuk menakut-nakuti, tetapi sebagai simbol ujian kolektif: pengaruh ideologi, dominasi ekonomi, teknologi yang digunakan untuk mengendalikan manusia, dan fitnah moral yang harus disikapi dengan kesadaran spiritual.
Peran Nabi Isa AS
Nabi Isa AS turun untuk:
- Menegakkan kebenaran di atas kebatilan
- Menghancurkan dominasi dan tipu daya Dajjal
- Memulihkan moral dan keseimbangan dunia
Kedatangan Nabi Isa AS menandai akhir fase ujian Dajjal dan pembalikan sistemik dari dominasi destruktif ini, menegaskan bahwa kemenangan bukan sekadar duel fisik, tetapi melibatkan perubahan ideologi, sistem, dan pengaruh moral di seluruh dunia.
Dajjal dan Manifestasi Global
Fenomena Dajjal di era modern bisa dilihat sebagai dominasi sistemik melalui:
- Ideologi dan propaganda global
- Kontrol ekonomi dan keuangan internasional
- Pengaruh teknologi dan media sebagai alat dominasi
- Sistem globalisasi yang mengaburkan moral dan batas spiritual
Dalam perspektif ini, Dajjal bukan sekadar figur literal, melainkan sistem yang menguji iman, kesadaran, dan integritas umat manusia. Manusia yang sadar spiritual dapat mengenali fitnah ini dan menahan diri dari tipu daya global.
Dampak dan Pelajaran
Kehadiran Dajjal memiliki dampak yang luas, baik secara individual maupun kolektif. Secara spiritual, umat diuji kemampuannya untuk bertahan dalam iman dan kesabaran. Secara sosial, kemunculan Dajjal akan menguji keutuhan masyarakat, persatuan umat, dan kemampuan mereka membedakan yang benar dan yang menyesatkan. Pelajaran utama dari fenomena ini adalah kesiapan spiritual, kesadaran kritis, dan pemahaman ajaran agama yang mendalam.
Fenomena Dajjal memberi pelajaran sejarah: dunia selalu menghadapi ujian besar yang menguji moralitas, keadilan, dan kebenaran. Dengan memahami pola ini, umat manusia dapat belajar dari sejarah, menjaga keimanan, dan mengantisipasi tantangan moral dan spiritual di masa depan.
Rekomendasi Buku & Koleksi Terkait
- Dajjal, The Qur’an, and Awwal Al-Zaman – Imran N. Hosein
- Kitab Hadis Shahih Bukhari dan Muslim, bab akhir zaman
- Buku-buku eskatologi Islam klasik dan kontemporer untuk perspektif tambahan
Rujukan / Catatan Kaki
- QS. Sad 38:34
- HR. Muslim, hadis tentang 40 hari kemunculan Dajjal
- Imran N. Hosein, Dajjal, The Qur’an, and Awwal Al-Zaman
- Imran N Hosein, Alquran, Dajjal dan Jasad
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi. Pandangan yang disampaikan mengikuti sumber primer dan interpretasi Imran N. Hosein, tidak dimaksudkan sebagai nasihat hukum atau fatwa keagamaan. Pembaca dianjurkan untuk merujuk pada literatur resmi dan ulama yang kompeten.
Ditulis Oleh
Adi Mahardika, S.I.Kom.
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf

Komentar
Posting Komentar