Pendahuluan
Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu tanda besar menjelang kiamat dalam perspektif Islam. Fenomena ini tidak hanya disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an (QS Al-Kahfi: 94-98), tetapi juga dijelaskan dalam berbagai hadits shahih Nabi Muhammad SAW. Sejak masa ulama klasik hingga pemikir kontemporer, Ya’juj dan Ma’juj menjadi tema penting dalam kajian eskatologi Islam.
Salah satu karya modern yang secara khusus membahas fenomena ini adalah buku Ya’juj dan Ma’juj pada Zaman Modern karya Syeikh Imran N. Hosein. Artikel ini merupakan saduran dan penjelasan ulang dari pandangan beliau, ditulis dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami, tanpa mengubah kerangka pemikiran aslinya.
Syeikh Imran menegaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj bukan mitos atau sekadar kisah masa lalu, melainkan fenomena nyata, historis, dan relevan dengan dinamika geopolitik serta sistem global di era modern.
Latar Belakang dan Asal-Usul Ya’juj dan Ma’juj
Al-Qur’an menjelaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj adalah kaum perusak yang pernah mengancam suatu wilayah hingga Allah memberi kekuasaan kepada Dzulkarnain untuk membangun penghalang besar di antara dua gunung (QS Al-Kahfi: 93-98). Penghalang ini berfungsi menahan mereka agar tidak keluar dan merusak bumi sebelum waktu yang telah ditetapkan Allah.
Dalam pandangan Syeikh Imran N. Hosein, kisah ini bersifat historis dan literal, bukan alegori. Ya’juj dan Ma’juj adalah manusia nyata, bukan makhluk mitologis, yang memiliki karakter destruktif dan kemampuan ekspansi besar. Mereka dikurung bukan karena kekuatan fisik semata, melainkan karena potensi kerusakan peradaban yang mereka bawa.
Karakteristik Ya’juj dan Ma’juj dalam Nash
Dalam literatur Islam klasik, Ya’juj dan Ma’juj digambarkan sebagai kaum yang sangat banyak jumlahnya, agresif, dan memiliki kemampuan untuk menaklukkan wilayah luas. Mereka disebutkan akan “turun dari setiap tempat yang tinggi” dan menyebar ke seluruh penjuru bumi.
Syeikh Imran menekankan bahwa ciri utama Ya’juj dan Ma’juj bukan sekadar kekuatan fisik, melainkan kemampuan mereka:
- Menguasai ilmu dan teknologi,
- Mengendalikan sumber daya ekonomi,
- Membentuk sistem dominasi global,
- Menghancurkan keseimbangan moral dan spiritual umat manusia.
Dengan demikian, kekuatan mereka di akhir zaman tidak selalu tampil dalam bentuk invasi militer klasik, tetapi melalui struktur peradaban dan sistem global.
Kronologi dan Lokasi Historis
Menurut analisis Syeikh Imran N. Hosein, lokasi penghalang Dzulkarnain sangat mungkin berada di wilayah pegunungan Kaukasus, khususnya celah Daryal. Identifikasi ini berkaitan dengan sejarah bangsa Khazar di Eropa Timur, yang pada masa lalu dikenal sebagai kekuatan besar penunggang kuda dan pernah menjadi penghalang ekspansi kekuatan Islam maupun Bizantium.
Syeikh Imran mengaitkan Ya’juj dan Ma’juj dengan keturunan bangsa Khazar yang kemudian bertransformasi dan berasimilasi dalam kekuatan peradaban modern. Dari sinilah muncul pemahaman bahwa “keluarnya” Ya’juj dan Ma’juj tidak harus selalu dipahami sebagai peristiwa tiba-tiba, melainkan sebagai proses historis panjang.
Makna “Dibukanya Penghalang” di Zaman Modern
Dibukanya penghalang Ya’juj dan Ma’juj tidak semata-mata berarti runtuhnya tembok fisik, tetapi juga runtuhnya pembatas ilahi yang selama ini menahan dominasi mereka. Dalam konteks modern, penghalang tersebut dapat berupa:
- Hukum ilahi,
- Nilai moral,
- Keadilan sosial,
- Sistem ekonomi yang adil.
Ketika nilai-nilai ini ditinggalkan, kekuatan Ya’juj dan Ma’juj bergerak bebas, menciptakan ketimpangan global, eksploitasi tanpa batas, peperangan, dan krisis kemanusiaan.
Ya’juj dan Ma’juj sebagai Penggerak Sistem di Akhir Zaman
Dalam eskatologi Islam, khususnya dalam pandangan Syeikh Imran N. Hosein, Ya’juj dan Ma’juj bukanlah sistem itu sendiri, melainkan aktor kolektif manusia yang menguasai ilmu, teknologi, dan ekonomi global, lalu menciptakan dan mengendalikan sistem sebagai alat dominasi.
Ciri utama Ya’juj dan Ma’juj terletak pada kemampuan mereka membangun sistem yang:
- Menyebar secara global,
- Merusak tatanan alami dan moral,
- Menguasai sumber daya dunia,
- Menciptakan ketergantungan dan kekacauan berskala besar.
Dalam perspektif ini, berbagai agenda global modern dapat dipahami sebagai instrumen, bukan tujuan akhir. Sistem ekonomi, teknologi, dan politik global menjadi sarana untuk memperluas pengaruh dan kontrol, bukan sekadar kemajuan peradaban.
Dampak Global dan Pelajaran bagi Umat Manusia
Fenomena Ya’juj dan Ma’juj membawa pelajaran penting:
- Spiritual - Mengingatkan keterbatasan manusia dan kekuasaan mutlak Allah.
- Moral - Menunjukkan bahaya keserakahan dan dominasi tanpa nilai ilahi.
- Peradaban - Mengungkap pola kehancuran yang muncul ketika ilmu dan teknologi dipisahkan dari iman.
Syeikh Imran menekankan bahwa solusi menghadapi zaman ini bukan perlawanan fisik, melainkan kesadaran iman, ilmu, dan persiapan spiritual.
Persiapan Spiritual Menghadapi Zaman Ya’juj dan Ma’juj
Di tengah dunia yang semakin dikendalikan oleh sistem global yang menindas secara halus, Islam menuntun umatnya untuk memperkuat:
- Tauhid,
- Kejujuran,
- Ilmu yang berpijak pada wahyu,
- Kesadaran akhir zaman.
Iman dan ilmu menjadi benteng utama agar manusia tidak larut dalam sistem yang menjauhkan dari fitrah.
Rekomendasi Buku & Bacaan Terkait Untuk pendalaman lebih lanjut:
- Ya’juj dan Ma’juj pada Zaman Modern - Syeikh Imran N. Hosein
- Sebuah Pandangan Islam Mengenai Ya’juj & Ma’juj di Dunia Modern
- Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Kahfi
- Literatur eskatologi Islam klasik dan kontemporer
Rujukan
- Al-Qur’an, QS Al-Kahfi 18:93-98
- Hadits shahih tentang Ya’juj dan Ma’juj
- Syeikh Imran N. Hosein, Ya’juj dan Ma’juj pada Zaman Modern
Disclaimer
Artikel ini bersifat edukatif dan informatif. Isi tulisan merupakan saduran dan penjelasan ulang dari sumber yang dirujuk, serta tidak dimaksudkan sebagai klaim kebenaran mutlak
Ditulis oleh
Adi Mahardika, S.I.Kom
Pembelajar Islamic Eschatology & Tasawuf

Masya Allah, semoga Allah melindungi kita semua Ila yaumil qiyamah
BalasHapus