Langsung ke konten utama

Al-Qur’an, Sistem Ekonomi Global, dan Kriminalitas di Akhir Zaman

Ilustrasi simbolik runtuhnya sistem perbankan global, uang beterbangan di dalam gedung bank yang retak, masyarakat dari berbagai kelas sosial menghadapi krisis ekonomi dan ketidakpastian.

Pendahuluan 

Dalam beberapa dekade terakhir, dunia menyaksikan meningkatnya ketimpangan ekonomi, krisis finansial berulang, serta eskalasi kriminalitas di berbagai belahan dunia. Fenomena ini sering dipahami secara terpisah: ekonomi dibahas oleh para ekonom, kriminalitas oleh aparat hukum, dan moralitas oleh agama. Namun, Al-Qur’an memandang ketiganya sebagai satu rangkaian sebab-akibat yang saling terkait.

Islam menempatkan keadilan ekonomi sebagai fondasi stabilitas sosial. Ketika sistem ekonomi menyimpang dari prinsip keadilan—melalui penindasan, manipulasi moneter, dan praktik riba—dampaknya tidak berhenti pada kemiskinan semata, tetapi merembet pada kerusakan sosial, kekerasan, dan kriminalitas. Dalam perspektif eskatologi Islam, kondisi ini bahkan dipahami sebagai bagian dari tanda-tanda krisis besar menjelang akhir zaman.
Artikel ini mengulas hubungan antara sistem ekonomi global, meningkatnya kriminalitas, serta pandangan Al-Qur’an dan eskatologi Islam dalam membaca fenomena tersebut, dengan pendekatan reflektif, historis, dan kontekstual.


Krisis Sistem Ekonomi dan Paradoks Modernitas

Sistem ekonomi modern sering dipromosikan sebagai puncak kemajuan peradaban manusia. Bank, pasar modal, dan lembaga keuangan global digambarkan sebagai instrumen stabilitas dan kesejahteraan. Namun realitas sosial justru menunjukkan paradoks: semakin maju sistem ekonomi, semakin tinggi ketimpangan, krisis, dan kriminalitas.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan mendasar: apakah akar kriminalitas hanya persoalan moral individu, ataukah bersumber dari sistem ekonomi itu sendiri? Al-Qur’an sejak awal telah memberikan peringatan keras tentang riba, penumpukan harta, dan ketidakadilan struktural—isu yang hari ini menjadi inti masalah global.


Sistem Ekonomi Modern dan Ilusi Kesejahteraan

Ekonomi global hari ini bertumpu pada sistem uang fiat, perbankan berbasis bunga, dan hutang yang terus bergulir. Kekayaan terkonsentrasi pada segelintir elite, sementara mayoritas masyarakat hidup dalam tekanan ekonomi permanen.

Al-Qur’an telah mengingatkan:

“Supaya harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
(QS. Al-Hasyr: 7)

Namun sistem ekonomi modern justru melakukan sebaliknya: menciptakan sirkulasi kekayaan yang tertutup, eksklusif, dan oligarkis.


Riba sebagai Fondasi Sistem Keuangan Global

Larangan riba dalam Al-Qur’an bukan semata persoalan ibadah, tetapi peringatan sistemik. Riba menciptakan ketimpangan permanen karena keuntungan dijamin bagi pemilik modal, sementara risiko ditimpakan pada masyarakat.

“Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah: 275)

Ketika riba menjadi fondasi ekonomi:

  • Hutang menjadi alat penjajahan
  • Negara kehilangan kedaulatan
  • Masyarakat dipaksa bertahan dalam tekanan struktural

Sistem Moneter Modern dan Konsentrasi Kekuasaan Finansial

Salah satu ciri utama sistem ekonomi modern adalah penciptaan uang dari ketiadaan melalui perbankan dan bank sentral. Kekuasaan ini tidak berada di tangan rakyat, melainkan elite finansial global.

Pernyataan berikut sering dikutip bukan sebagai kritik moral, melainkan sebagai pengakuan langsung dari tokoh sistem perbankan tentang bagaimana kekuasaan uang bekerja:

“Beri aku kendali atas uang suatu bangsa, maka aku tidak peduli siapa yang membuat undang-undangnya.”
— Nathan Mayer Rothschild

Pernyataan ini menegaskan bahwa kekuasaan moneter berada di atas kekuasaan politik.

Hal serupa juga diakui oleh Sir Josiah Stamp, mantan direktur Bank of England:

“Sistem perbankan modern menciptakan uang dari ketiadaan. Proses ini mungkin merupakan tipu daya paling mencengangkan yang pernah ditemukan manusia.”

Dalam perspektif eskatologi Islam, pengakuan ini bukan kebetulan sejarah, melainkan bagian dari sistem akhir zaman yang dibangun di atas riba, hutang, dan dominasi finansial global.


Ketimpangan Ekonomi dan Ledakan Kriminalitas

Ketika sistem menciptakan ketimpangan ekstrem, kriminalitas bukan lagi penyimpangan, melainkan konsekuensi logis.

Kriminalitas muncul dalam berbagai bentuk:

  • Pencurian dan perampokan karena tekanan ekonomi
  • Korupsi sebagai jalan pintas elite
  • Kejahatan terorganisir yang terhubung dengan kekuasaan

Al-Qur’an menggambarkan kondisi ini:

“Dan apabila Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan orang-orang yang hidup mewah di dalamnya, tetapi mereka melakukan kedurhakaan…”
(QS. Al-Isra: 16)


Perspektif Al-Qur’an tentang Kerusakan Sosial

Al-Qur’an tidak memisahkan kerusakan moral dari kerusakan sistem:

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)

Kerusakan ini mencakup:

  • Sistem ekonomi
  • Sistem politik
  • Struktur sosial

Ketika sistem rusak, individu yang lahir di dalamnya ikut terdorong melakukan pelanggaran.


Akhir Zaman, Sistem Global, dan Tanda-Tanda Besar

Dalam kajian eskatologi Islam, sistem riba global sering dikaitkan dengan fitnah akhir zaman. Dominasi finansial, konflik global, dan kehancuran moral berjalan beriringan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Akan datang suatu masa ketika manusia tidak peduli dari mana harta diperoleh, halal atau haram.”

Kondisi ini selaras dengan realitas hari ini:

  • Riba dilegalkan
  • Eksploitasi dinormalisasi
  • Kriminalitas dibingkai sebagai statistik

Jalan Keluar Menurut Al-Qur’an

Islam tidak hanya mengkritik, tetapi menawarkan solusi:

  • Penghapusan riba
  • Distribusi zakat dan wakaf
  • Ekonomi berbasis keadilan dan amanah

“Dan Allah hendak menghapuskan riba dan menyuburkan sedekah.”
(QS. Al-Baqarah: 276)

Solusi Qur’ani bukan utopia, melainkan alternatif sistemik terhadap kegagalan ekonomi global.


Penutup

Kriminalitas modern bukanlah sekadar kegagalan individu, melainkan refleksi dari sistem ekonomi yang cacat. Al-Qur’an telah lama memperingatkan bahaya riba, konsentrasi kekuasaan, dan ketimpangan struktural.

Memahami ekonomi dari perspektif wahyu bukan hanya urusan iman, tetapi kunci membaca arah peradaban dan tanda-tanda akhir zaman


📚 Rujukan & Referensi

Artikel ini disusun berdasarkan kajian literatur, pemikiran eskatologi Islam, serta refleksi sosial-ekonomi kontemporer. Beberapa rujukan utama yang menjadi dasar penulisan antara lain:

  • Al-Qur’an al-Karim
  • Tafsir dan hadis terkait riba, keadilan ekonomi, dan akhir zaman
  • Imran N. Hosein, The Prohibition of Riba in the Qur’an
  • Imran N. Hosein, The Gold Dinar and Silver Dirham: Islam and the Future of Money
  • Eamonn Butler – Pengantar Ekonomi
  • Niall Ferguson – The Ascent of Money (Sejarah kekuasaan finansial)
  • Ha-Joon Chang – Ekonomi: Panduan untuk Non-Ekonom

Kutipan tokoh dan pernyataan historis dalam artikel ini digunakan sebagai ilustrasi pemikiran dan konteks sejarah, bukan sebagai legitimasi mutlak atas suatu pandangan.

Pandangan eskatologis dalam artikel ini merujuk pada analisis Syeikh Imran Nazar Hosein mengenai riba, sistem moneter global, dan tanda-tanda akhir zaman.


📚 Rekomendasi Bacaan untuk Pendalaman

Bagi pembaca yang ingin memahami isu ekonomi global, riba, dan akhir zaman lebih mendalam, berikut beberapa rujukan penting (tersedia versi Indonesia):

  • Dinar dan Dirham — Syeikh Imran Hossein
  • Tanda-Tanda Hari Akhir di Zaman Modern  — Syeikh Imran Hossein
  • Dajjal, Al-Qur’an dan Awal Zaman — Syeikh Imran Hossein
  • Al-Qur’an, Perang Besar dan Dunia Barat — Syeikh Imran Hossein 
  • Sebuah Pandangan Islam Mengenai Yakjuj & Makjuj di Dunia Modern — Syeikh Imran Hossein
  • Globalisasi dan Ketidakadilan — Joseph E. Stiglitz
  • Ekonomi Politik Internasional — Robert Gilpin
  • Kapitalisme dan Krisis Dunia — Samir Amin
  • Ekonomi: Panduan untuk Non-Ekonom — Ha-Joon Chang 
Temukan koleksi lengkap di Daftar Buku dan Referensi.


Disclaimer

Artikel ini bersifat edukatif dan analitis, menggabungkan kajian Al-Qur’an, ekonomi global, sejarah, dan pandangan eskatologis tokoh tertentu.

Seluruh pandangan merupakan wacana dan interpretasi, bukan klaim kepastian atas peristiwa masa depan.


Ditulis oleh:

Adi Mahardika, S.I.Kom
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf


Follow Us:   Facebook   Instagram   TikTok  YouTube    X / Twitter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Gharqad Dan Fakta Media Propaganda

Pendahuluan Dalam sejarah konflik modern, peperangan tidak lagi terbatas pada medan militer. Informasi, narasi, dan persepsi publik telah menjadi senjata strategis yang sama pentingnya dengan tank dan jet tempur. Di era digital, media sosial dan platform teknologi global memegang peran sentral dalam membentuk opini dunia—terutama ketika konflik menyentuh isu kemanusiaan yang sensitif, seperti tragedi di Gaza. Di tengah kemarahan global atas pengepungan dan penghancuran wilayah sipil Gaza, muncul laporan serius tentang bagaimana negara dan korporasi teknologi besar berkolaborasi membangun narasi tandingan. Fenomena ini mengingatkan kita pada simbolisme yang lebih dalam dalam tradisi Islam, salah satunya adalah pohon Gharqad , yang kerap disebut dalam konteks akhir zaman sebagai metafora perlindungan, persembunyian, dan manipulasi kebenaran. Tulisan ini mengulas fakta-fakta yang dilaporkan media internasional mengenai operasi propaganda digital Israel, sekaligus membingkainya...

Golden Dome Dan Ambisi Yakjuj Makjuj

Pendahuluan Dalam era geopolitik modern, konflik teknologi dan militer antarnegara superpower bukan sekadar masalah strategis, melainkan memiliki implikasi eskatologis. Salah satu fenomena yang menarik adalah proyek Golden Dome yang digagas Amerika Serikat sebagai jawaban terhadap kemampuan rudal hipersonik Cina. Dalam perspektif Islam kontemporer, proyek semacam ini dapat dikaitkan dengan visi dan misi Ya’juj dan Ma’juj , yang dalam konteks modern bukan hanya bangsa primitif, tetapi kekuatan peradaban global yang mendominasi sistem dunia melalui teknologi, informasi, dan ekonomi. Bagaimana proyek pertahanan luar angkasa AS ini dapat dipahami dari perspektif geopolitik dan eskatologis? Artikel ini merangkum fakta, analisis, dan pandangan Sheikh Imran Hosein (SIH) dengan pendekatan historis, strategis, dan reflektif. Perang Dunia Amerika vs Cina dan Proyek Golden Dome Pentagon mengungkapkan bahwa AS mengalami kekalahan konsisten dalam simulasi perang melawan Cina. Rudal hipersonik...

Membaca Ya’juj dan Ma’juj dalam Konteks Dunia Modern

Pendahuluan Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu tanda besar menjelang kiamat dalam perspektif Islam. Fenomena ini tidak hanya disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an (QS Al-Kahfi: 94-98), tetapi juga dijelaskan dalam berbagai hadits shahih Nabi Muhammad SAW. Sejak masa ulama klasik hingga pemikir kontemporer, Ya’juj dan Ma’juj menjadi tema penting dalam kajian eskatologi Islam. Salah satu karya modern yang secara khusus membahas fenomena ini adalah buku Ya’juj dan Ma’juj pada Zaman Modern karya Syeikh Imran N. Hosein. Artikel ini merupakan saduran dan penjelasan ulang dari pandangan beliau, ditulis dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami, tanpa mengubah kerangka pemikiran aslinya. Syeikh Imran menegaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj bukan mitos atau sekadar kisah masa lalu, melainkan fenomena nyata, historis, dan relevan dengan dinamika geopolitik serta sistem global di era modern. Latar Belakang dan Asal-Usul Ya’juj dan Ma’juj Al-Qur’an menjelaskan bahwa Ya’...