Pendahuluan
Perkembangan teknologi global dalam dua dekade terakhir bergerak sangat cepat, bahkan melampaui kemampuan sebagian besar manusia untuk memahami dampak jangka panjangnya. Dunia tidak hanya diperkenalkan pada kecerdasan buatan (AI), internet of things, dan blockchain, tetapi juga pada sebuah konsep baru bernama metaverse. Bersamaan dengan itu, World Economic Forum (WEF) memperkenalkan agenda Global Collaboration Village, sebuah proyek kolaborasi global berbasis dunia virtual.
Di permukaan, semua ini dipromosikan sebagai kemajuan peradaban manusia: kolaborasi tanpa batas, inklusivitas, efisiensi, dan keberlanjutan. Namun bagi mereka yang mempelajari eskatologi Islam, muncul pertanyaan mendasar: apakah ini sekadar kemajuan teknologi, atau bagian dari agenda besar yang telah lama diperingatkan dalam nash dan hadits tentang akhir zaman?
Metaverse sebagai Infrastruktur Peradaban Baru
Istilah metaverse berasal dari dua kata Yunani, meta (melampaui) dan verse (dunia). Secara sederhana, metaverse dimaknai sebagai dunia virtual tiga dimensi yang memungkinkan manusia berinteraksi, bekerja, belajar, dan bersosialisasi seolah-olah berada di dunia nyata.
Teknologi yang menopang metaverse meliputi:
- Virtual Reality (VR), Augmented Reality (AR), Mixed Reality (MR), dan Extended Reality (XR)
- Artificial Intelligence (AI)
- Web 3.0
- Blockchain dan aset digital
Perusahaan global seperti Meta (Facebook), Microsoft, Google, Samsung, dan Adidas telah menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun ekosistem ini. Metaverse diproyeksikan menjadi pasar raksasa bernilai ratusan miliar dolar, sekaligus ruang hidup baru bagi manusia.
Namun, persoalannya bukan pada teknologinya semata, melainkan arah penggunaan dan siapa yang mengendalikan sistemnya.
Global Collaboration Village dan Ilusi Kolaborasi Global
WEF memperkenalkan konsep Global Collaboration Village sebagai ruang virtual global yang menghubungkan pemerintah, korporasi, akademisi, dan masyarakat sipil. Tujuannya terdengar ideal: membangun kolaborasi lintas negara untuk menyelesaikan tantangan global seperti krisis ekonomi, perubahan iklim, kesehatan, dan stabilitas sosial.
Namun dalam praktiknya, konsep ini mendorong penghapusan batas-batas fundamental:
- Batas negara dan kedaulatan
- Batas budaya dan nilai
- Batas agama dan identitas
Manusia diarahkan untuk hidup dalam satu sistem global dengan standar tunggal, cara berpikir tunggal, dan mekanisme kontrol terpusat. Sejarah membuktikan bahwa sistem global semacam ini selalu berujung pada dominasi segelintir elit atas mayoritas umat manusia.
Konsep metaverse dan Global Collaboration Village kerap dipromosikan sebagai solusi kolaborasi global berbasis teknologi. Video berikut memberikan gambaran bagaimana agenda ini diperkenalkan dan dikemas dalam narasi resmi global:
Blockchain, Mata Uang Digital, dan Kontrol Ekonomi
Teknologi blockchain dipromosikan sebagai solusi transparansi dan keamanan. Namun dalam agenda global, blockchain berkaitan erat dengan mata uang digital dan sistem keuangan tanpa uang tunai.
Jika seluruh transaksi manusia bersifat digital:
- Aset dapat dibekukan
- Akses ekonomi dapat dicabut
- Kehidupan seseorang dapat “dimatikan” secara sistemik
Dalam perspektif Islam, inti dari segala bentuk perbudakan—baik kuno maupun modern—adalah kontrol ekonomi. Sistem ini jauh lebih canggih dibanding perbudakan fisik masa lalu karena bekerja melalui kenyamanan, efisiensi, dan ketergantungan teknologi.
Yakjuj dan Makjuj sebagai Penggerak Sistem di Akhir Zaman
Dalam eskatologi Islam—khususnya dalam pandangan Syeikh Imran Nazar Hosein—Yakjuj dan Makjuj bukan sekadar sosok fisik atau entitas simbolik, melainkan kekuatan peradaban manusia yang dilepaskan menjelang akhir zaman. Mereka dipahami sebagai aktor kolektif yang menguasai ilmu, teknologi, dan ekonomi global, lalu membangun sistem-sistem destruktif sebagai instrumen dominasi.
Ciri utama Yakjuj dan Makjuj bukan terletak pada satu sistem tertentu, melainkan pada kemampuan mereka menciptakan dan mengendalikan sistem yang:
- menyebar secara global,
- merusak tatanan alami dan moral,
- menguasai sumber daya,
- serta menciptakan ketergantungan dan kekacauan berskala dunia.
Jika ditelaah lebih jauh, agenda seperti Global Collaboration Village menunjukkan pola yang sejalan dengan karakter tersebut: penyeragaman global, dominasi struktur tunggal, kontrol ekonomi dan informasi, serta meningkatnya ketergantungan manusia pada satu sistem terpusat. Dalam perspektif ini, metaverse bukanlah tujuan akhir, melainkan alat—sebuah medium baru yang memudahkan kontrol massal, mengaburkan batas antara realitas dan ilusi, serta menjauhkan manusia dari fitrah tanpa perlu paksaan fisik.
Untuk memahami bagaimana Ya'juj dan Ma'juj beroperasi sebagai kekuatan sistemik di era modern, pembaca dapat merujuk analisis khusus → Membaca Ya’juj dan Ma’juj dalam Konteks Dunia Modern
Klaus Schwab dan Bahasa Kekuasaan Global
Pendiri WEF, Klaus Schwab, menyatakan bahwa metaverse akan memengaruhi cara manusia berpikir, bekerja, dan berinteraksi. Bahasa yang digunakan selalu terdengar positif: inklusif, berkelanjutan, kolaboratif.
Namun sejarah menunjukkan bahwa bahasa utopis sering kali menutupi agenda hegemonik. Permasalahan global terus diproduksi, lalu dijadikan alasan untuk menawarkan solusi global terpusat. Ketakutan kolektif menjadi pintu masuk bagi kontrol yang lebih luas.
Dampak Spiritual dan Sosial
Jika manusia hidup dalam dunia virtual yang dikendalikan sistem global:
- Nilai moral menjadi relatif
- Identitas spiritual melemah
- Ketergantungan meningkat
- Kebebasan sejati menyempit
Islam mengajarkan bahwa akhir zaman ditandai dengan fitnah yang begitu halus hingga tampak sebagai kebenaran. Teknologi, jika tidak disertai kesadaran iman, dapat menjadi sarana terbesar fitnah tersebut.
Kesimpulan
Metaverse dan Global Collaboration Village bukan sekadar proyek teknologi, melainkan bagian dari transformasi peradaban global. Dalam perspektif eskatologi Islam, pola ini sejalan dengan karakter sistem Yakjuj dan Makjuj: dominatif, menyeluruh, dan merusak keseimbangan fitrah manusia.
Islam tidak menolak teknologi, tetapi menolak penyembahan terhadap sistem. Kesadaran spiritual menjadi benteng utama agar manusia tidak terjebak dalam perbudakan modern yang dibungkus kemajuan.
Rekomendasi Bacaan Terkait
Untuk pendalaman tema akhir zaman, teknologi, dan sistem global:
- Sebuah Pandangan Islam Mengenai Yakjuj & Makjuj di Dunia Modern
- Tanda-Tanda Hari Akhir di Zaman Modern
- Al-Qur’an, Dajjal, dan Jasad
- Al-Kahfi dan Zaman Modern
- Dinar dan Dirham
Jelajahi buku dan referensi terkait sejarah, tasawuf, geopolitik, dan akhir zaman. Temukan koleksi lengkap di Daftar Buku dan Referensi.
Rujukan
- World Economic Forum – Global Collaboration Village
- ScienceDirect – Metaverse and Digital Society
- Syeikh Imran Hossein – Sebuah Pandangan Islam Mengenai Yakjuj dan Makjuj di Dunia Modern
Disclaimer
Artikel ini bersifat edukatif dan reflektif. Pandangan eskatologi disajikan sebagai kajian keislaman dan tidak dimaksudkan sebagai klaim kebenaran mutlak.
Ditulis oleh:
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf

Komentar
Posting Komentar