Pendahuluan
Timur Tengah sejak lama menjadi episentrum konflik global yang melibatkan bukan hanya aktor regional, tetapi juga kekuatan dunia. Perang Israel–Palestina tidak lagi berdiri sebagai konflik teritorial semata, melainkan simpul dari kepentingan geopolitik, ideologi, ekonomi, dan kekuatan militer global. Dalam konteks inilah berbagai analisis prediktif muncul—salah satunya skenario eskalasi yang menggambarkan kemungkinan konflik berkembang menuju skala dunia.
Artikel ini menyajikan gambaran salah satu skenario eskalasi ekstrem yang dikembangkan oleh Alexander Dugin, dilengkapi dengan catatan kritis dari perspektif Noam Chomsky
Awal Eskalasi: Palestina dan Reaksi Regional
Skenario dimulai dari meluasnya konflik di Tepi Barat dan Yerusalem Timur. Otoritas Palestina tidak mampu lagi menahan eskalasi, sementara agresi militer Israel di Jalur Gaza meningkat hingga menimbulkan korban sipil dalam jumlah besar. Narasi genosida menyebar luas dan memicu kemarahan dunia Islam.
Hizbullah di Lebanon ikut terlibat, sementara tekanan massa di Yordania mendorong pelanggaran perbatasan. Dunia Arab bergerak dari posisi pasif menuju konfrontasi terbuka. Di saat yang sama, gelombang protes global muncul, terutama di negara-negara Barat, menentang dukungan elit liberal dan pemerintah pro-Amerika terhadap Israel.
Perluasan Konflik: Iran, Suriah, dan Dunia Islam
Amerika Serikat, melihat keterlibatan Iran yang semakin nyata, meluncurkan serangan pendahuluan. Iran membalas langsung ke Israel, menjadikan konflik berskala regional. Suriah memasuki perang dengan menyerang Dataran Tinggi Golan.
Negara-negara Muslim yang selama ini berada di orbit Amerika—Arab Saudi, UEA, Qatar—dipaksa oleh tekanan internal dan eksternal untuk berpihak pada Palestina. Pakistan, Turki, dan Indonesia disebut bergabung secara politik dan simbolik. Narasi jihad global kembali muncul, mengaburkan perbedaan mazhab dan ideologi internal dunia Islam.
Spanduk hitam Khorasan dikibarkan secara simbolik, menandai bersatunya sentimen perlawanan terhadap Barat dan Israel.
Barat, Rusia, dan Retaknya Tatanan Global
Rusia memilih sikap menahan diri karena masih terlibat perang di Ukraina. Namun situasi berubah drastis ketika eskalasi mencapai Yerusalem Timur. Dalam skenario ini, Palestina menutup Masjid Al-Aqsa untuk perlindungan, tetapi Israel tetap melancarkan serangan yang menyebabkan kerusakan besar.
Runtuhnya Al-Aqsa menjadi titik balik psikologis dan simbolik. Jalan menuju pembangunan Bait Suci Ketiga terbuka. Dunia Islam bereaksi keras, termasuk diaspora Muslim di Eropa yang memicu kerusuhan besar dan perang saudara internal di Barat.
Eropa terpecah antara elit liberal Atlantik dan kelompok anti-liberal yang justru bersekutu dengan komunitas Muslim. Narasi hak asasi manusia runtuh di tengah realitas perang total.
Eskalasi Global dan Perang Dunia
Amerika Serikat menggunakan senjata nuklir taktis terhadap Iran. Rusia merespons dengan serangan nuklir taktis di Ukraina. Perang Dunia III pecah, meski dalam bentuk terbatas namun destruktif.
China memanfaatkan momentum dengan menyerang Taiwan, mengalihkan fokus AS dan NATO. India menahan diri. Banyak pemimpin dunia tewas, digantikan figur-figur radikal dengan visi ideologis ekstrem.
Dalam kekacauan ini, Israel—di bawah tekanan dari segala arah—tetap melanjutkan agenda pembangunan Bait Suci Ketiga, dengan keyakinan bahwa hanya Mesias (Moshiach) yang dapat menyelamatkan situasi.
Di titik inilah skenario prediktif Dugin berakhir.
Catatan Kritis: Perspektif Noam Chomsky
Sebagai penyeimbang terhadap analisis prediktif yang sarat ideologi, pemikiran Noam Chomsky memberikan kerangka kritis tentang bagaimana perang dan kekuasaan bekerja dalam dunia modern. Chomsky berulang kali menegaskan bahwa kekerasan negara hampir tidak pernah digerakkan oleh nilai moral, melainkan oleh kepentingan strategis dan upaya mempertahankan dominasi.
Ia menjelaskan bahwa publik sering hidup dalam manufactured consent—persetujuan yang dibentuk oleh media, propaganda, dan batas wacana yang dikendalikan elit. Dalam konteks konflik Israel–Palestina, penderitaan sipil kerap direduksi menjadi angka statistik, sementara intervensi militer dibingkai sebagai keharusan moral atau pembelaan diri.
Dari sudut pandang ini, eskalasi perang global bukanlah kegagalan akal manusia, melainkan konsekuensi logis dari sistem kekuasaan yang memandang manusia sebagai instrumen, bukan subjek bermartabat.
Refleksi Akhir
Baik melalui skenario prediktif ala Dugin maupun kritik struktural ala Chomsky, satu kesimpulan mengemuka: dunia berada dalam kondisi rapuh. Ketika kekuatan militer, ideologi, dan kepentingan ekonomi bertemu tanpa kendali moral, perang total bukan lagi fiksi.
Skenario ini tidak harus dipahami sebagai nubuat, melainkan peringatan—bahwa eskalasi selalu dimulai dari pembiaran, normalisasi kekerasan, dan kegagalan melihat kemanusiaan sebagai pusat kebijakan.
Rujukan
- Dugin, Alexander. Analisis geopolitik dan skenario konflik global.
- Chomsky, Noam. Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. Pantheon Books.
- Laporan konflik Timur Tengah dan dinamika geopolitik global.
📚 Rujukan Bacaan
- Who Rules the World? — Noam Chomsky
- Hegemoni Amerika Serikat dan Dampaknya bagi Dunia — Noam Chomsky
- Manufacturing Consent — Noam Chomsky
- Islam dan Tantangan Peradaban Barat Modern — Syed Muhammad Naquib al-Attas
- Islam and Secularism — Syed Muhammad Naquib al-Attas
- Zionisme dan Imperialisme Barat — (berbagai penulis)
- Kritik Globalisasi dan Tatanan Dunia Baru
Disclaimer:
Artikel ini bersifat analitis dan reflektif. Skenario yang disajikan tidak dimaksudkan sebagai prediksi pasti, melainkan bahan kajian geopolitik dan kesadaran kritis.
Ditulis oleh:
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf

Komentar
Posting Komentar