Langsung ke konten utama

Banyak Tentara Israel Mengakhiri Hidup Mereka Akibat Stres Selama Konflik Gaza

Prajurit Israel mengalami tekanan mental dan trauma akibat konflik Gaza


Pendahuluan

Perang modern tidak hanya menghancurkan kota dan infrastruktur, tetapi juga meninggalkan luka mendalam pada jiwa para pelakunya. Di balik narasi kekuatan militer dan keunggulan teknologi, terdapat realitas sunyi yang jarang dibicarakan: kehancuran psikologis para prajurit di garis depan. Konflik Gaza menjadi contoh nyata bagaimana perang berkepanjangan berdampak bukan hanya pada korban sipil, tetapi juga pada tentara yang terlibat langsung di medan tempur.

Dalam beberapa tahun terakhir, militer Israel menghadapi fenomena serius berupa meningkatnya kasus bunuh diri di kalangan tentaranya. Penyelidikan internal menunjukkan bahwa tekanan psikologis akibat perang, trauma pertempuran, dan kehilangan rekan menjadi faktor dominan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: sejauh mana perang modern merusak manusia di balik seragam?

Artikel ini mengulas data, temuan resmi, dan konteks geopolitik konflik Gaza, disertai refleksi kemanusiaan dan eskatologis tentang dampak perang yang melampaui statistik dan kemenangan militer.


Lonjakan Kasus Bunuh Diri di Tubuh Militer Israel

Sebuah penyelidikan internal militer Israel mengungkap bahwa sebagian besar kasus bunuh diri di kalangan tentaranya berkaitan erat dengan penderitaan mental selama konflik Gaza. Laporan ini pertama kali disampaikan oleh media Anadolu, mengutip penyiaran publik Israel, KAN.

Menurut laporan tersebut, 16 tentara Israel mengakhiri hidup mereka sejak awal tahun 2025. Setiap kasus diselidiki secara menyeluruh, termasuk peninjauan catatan pribadi terakhir dan wawancara dengan keluarga serta rekan terdekat korban. Hasil investigasi menunjukkan pola yang konsisten: tekanan mental ekstrem akibat perang menjadi faktor utama.

Seorang pejabat tinggi militer Israel mengakui kepada KAN bahwa perang di Gaza memberikan dampak psikologis yang berat. “Sebagian besar masalah bunuh diri ini berasal dari situasi sulit yang disebabkan oleh perang di Gaza. Perang pasti memiliki dampak,” ujarnya.


Data Historis dan Tren yang Mengkhawatirkan

Fenomena ini bukan kejadian terisolasi. Data resmi menunjukkan tren yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir:

  • 17 tentara Israel bunuh diri pada tahun 2023
  • 21 tentara bunuh diri pada tahun 2024
  • 16 kasus tercatat hanya dalam awal tahun 2025

Angka-angka ini menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan telah menciptakan tekanan psikologis struktural dalam tubuh militer Israel. Bukan hanya intensitas pertempuran, tetapi juga durasi konflik dan ketidakjelasan tujuan akhir yang memperparah kondisi mental prajurit.


PTSD dan Luka Psikologis Perang

KAN juga melaporkan bahwa sejak perang Gaza dimulai, sekitar 3.770 tentara Israel didiagnosis menderita gangguan stres pascatrauma (PTSD). PTSD bukan sekadar stres biasa, melainkan kondisi serius yang dapat memicu depresi berat, gangguan tidur, isolasi sosial, hingga kecenderungan bunuh diri.

Dari sekitar 19.000 tentara yang terluka selama pertempuran, hampir 10.000 orang menerima perawatan kesehatan mental melalui unit rehabilitasi Kementerian Pertahanan Israel. Angka ini mencerminkan skala krisis psikologis yang dihadapi militer modern dalam konflik asimetris dan berkepanjangan.

Perang tidak hanya menguji fisik prajurit, tetapi juga menekan nurani dan batas kemanusiaan mereka, terutama ketika dihadapkan pada situasi ekstrem, korban sipil, dan kehilangan rekan dekat.


Gaza: Perang Berkepanjangan dan Beban Moral

Mengabaikan seruan global untuk gencatan senjata, militer Israel terus melancarkan serangan besar-besaran ke Jalur Gaza sejak 7 Oktober 2023. Hingga kini, lebih dari 60.400 warga Palestina tewas, sebagian besar di antaranya adalah perempuan dan anak-anak.

Bagi tentara di lapangan, realitas ini bukan sekadar angka statistik. Kontak langsung dengan kehancuran, kematian massal, dan penderitaan sipil menciptakan tekanan moral yang mendalam. Dalam banyak studi psikologi militer, konflik yang melibatkan korban sipil dalam jumlah besar meningkatkan risiko trauma jangka panjang bagi prajurit.


Tekanan Internasional dan Isolasi Moral

Tekanan terhadap Israel tidak hanya datang dari dalam negeri, tetapi juga dari komunitas internasional. Pada November 2024, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Menteri Pertahanan Yoav Gallant, atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Selain itu, Israel juga menghadapi tuduhan genosida di Mahkamah Internasional (ICJ). Situasi ini menciptakan tekanan psikologis tambahan bagi tentara, yang harus menghadapi kemungkinan bahwa tindakan mereka dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional.


Media, Propaganda, dan Realitas di Lapangan

Di satu sisi, media dan propaganda militer berusaha mempertahankan narasi legitimasi dan keamanan nasional. Di sisi lain, tentara di lapangan berhadapan langsung dengan realitas yang jauh lebih kompleks dan traumatis. Ketegangan antara narasi resmi dan pengalaman pribadi ini kerap memicu disonansi kognitif yang berujung pada krisis identitas dan gangguan kesehatan mental.

Untuk memahami jurang antara narasi resmi dan kondisi psikologis prajurit di lapangan, video berikut memberikan gambaran visual yang relevan dengan pembahasan ini.

[Banyak Tentara Israel Mengakhiri Hidup Mereka Akibat Stres Selama Konflik Gaza]

Fenomena ini telah banyak dibahas dalam konteks propaganda digital dan algoritma media, yang membentuk persepsi publik namun kerap menyembunyikan kerusakan moral dan psikologis prajuritnya sendiri. Pada saat yang sama, kejahatan struktural yang terjadi di lapangan sering ditutupi atau dibingkai ulang demi menjaga legitimasi kekuasaan. Pola manipulasi narasi semacam ini sejalan dengan analisis simbol dan propaganda yang diuraikan dalam subpembahasan Pohon Gharqad dan Fakta Media Propaganda, di mana realitas dikaburkan untuk melindungi sistem, bukan manusia.


Refleksi Kemanusiaan dan Eskatologis

Dalam perspektif reflektif, perang modern memperlihatkan paradoks besar: teknologi militer semakin canggih, sementara manusia di baliknya justru semakin rapuh. Senjata presisi tinggi, sistem berbasis AI, dan keunggulan taktis tidak mampu melindungi jiwa prajurit dari trauma batin yang mendalam akibat kekerasan yang terus-menerus.

Dalam kajian eskatologi Islam, kehancuran psikologis akibat perang sering dipahami sebagai gejala rusaknya tatanan moral sistem global—bukan sekadar konsekuensi konflik fisik. Kekerasan yang dilembagakan, normalisasi kematian massal, serta pengabaian nilai kemanusiaan menjadi ciri zaman penuh fitnah, ketika manusia terperangkap dalam sistem yang menindas baik korban maupun pelakunya.
Refleksi ini tidak dimaksudkan untuk membenarkan kekerasan, melainkan sebagai pengingat bahwa perang selalu meninggalkan kehancuran multidimensi: fisik, mental, dan spiritual.

Seperti berbagai proyek teknologi militer modern lainnya—termasuk sistem pertahanan luar angkasa yang dibahas dalam Golden Dome dan Ambisi Ya’juj Ma’juj—perang Gaza kembali menegaskan paradoks peradaban modern: unggul secara teknologi, namun rapuh secara kemanusiaan.


Pelajaran dari Konflik Gaza

Kasus bunuh diri tentara Israel menunjukkan bahwa perang tidak pernah benar-benar dimenangkan. Bahkan pihak dengan keunggulan militer dan teknologi tetap membayar harga mahal dalam bentuk kerusakan mental dan sosial.

Fenomena ini seharusnya menjadi peringatan global bahwa solusi militer semata tidak mampu menyelesaikan konflik yang berakar pada ketidakadilan struktural, pendudukan, dan dehumanisasi.


Rekomendasi Bacaan dan Referensi

Untuk memahami konflik modern, dampak psikologis perang, serta refleksi akhir zaman secara lebih mendalam, berikut beberapa bacaan yang relevan:

  • Alquran, Dajjal dan Jasad – Sheikh Imran N. Hosein
  • Ya’juj dan Ma’juj dalam Dunia Moderen – Sheikh Imran N. Hosein
  • Al-Masih, Al-Qur’an, dan Akhir Zaman – Sheikh Imran N. Hosein
  • Perang, Propaganda, dan Kesadaran Umat – berbagai kajian geopolitik kontemporer

Temukan koleksi di Daftar Buku dan Referensi Lengkap.


Rujukan

Laporan Media

  • Anadolu Agency
  • KAN (Israel Public Broadcasting)
  • Arrahmahnews

Data dan Lembaga Internasional

  • Mahkamah Pidana Internasional (ICC)
  • Mahkamah Internasional (ICJ)

Disclaimer

Konten ini disajikan untuk tujuan edukasi, analisis, dan refleksi kemanusiaan. Informasi bersumber dari laporan media dan lembaga terbuka. Artikel ini tidak dimaksudkan untuk mendorong kekerasan atau menyakiti pihak mana pun.


Ditulis Oleh

Adi Mahardika, S.I.Kom
Pembelajar Islamic Eschatology & Tasawuf


Follow Us:   Facebook   Instagram   TikTok  YouTube    X / Twitter

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pohon Gharqad Dan Fakta Media Propaganda

Pendahuluan Dalam sejarah konflik modern, peperangan tidak lagi terbatas pada medan militer. Informasi, narasi, dan persepsi publik telah menjadi senjata strategis yang sama pentingnya dengan tank dan jet tempur. Di era digital, media sosial dan platform teknologi global memegang peran sentral dalam membentuk opini dunia—terutama ketika konflik menyentuh isu kemanusiaan yang sensitif, seperti tragedi di Gaza. Di tengah kemarahan global atas pengepungan dan penghancuran wilayah sipil Gaza, muncul laporan serius tentang bagaimana negara dan korporasi teknologi besar berkolaborasi membangun narasi tandingan. Fenomena ini mengingatkan kita pada simbolisme yang lebih dalam dalam tradisi Islam, salah satunya adalah pohon Gharqad , yang kerap disebut dalam konteks akhir zaman sebagai metafora perlindungan, persembunyian, dan manipulasi kebenaran. Tulisan ini mengulas fakta-fakta yang dilaporkan media internasional mengenai operasi propaganda digital Israel, sekaligus membingkainya...

Golden Dome Dan Ambisi Yakjuj Makjuj

Pendahuluan Dalam era geopolitik modern, konflik teknologi dan militer antarnegara superpower bukan sekadar masalah strategis, melainkan memiliki implikasi eskatologis. Salah satu fenomena yang menarik adalah proyek Golden Dome yang digagas Amerika Serikat sebagai jawaban terhadap kemampuan rudal hipersonik Cina. Dalam perspektif Islam kontemporer, proyek semacam ini dapat dikaitkan dengan visi dan misi Ya’juj dan Ma’juj , yang dalam konteks modern bukan hanya bangsa primitif, tetapi kekuatan peradaban global yang mendominasi sistem dunia melalui teknologi, informasi, dan ekonomi. Bagaimana proyek pertahanan luar angkasa AS ini dapat dipahami dari perspektif geopolitik dan eskatologis? Artikel ini merangkum fakta, analisis, dan pandangan Sheikh Imran Hosein (SIH) dengan pendekatan historis, strategis, dan reflektif. Perang Dunia Amerika vs Cina dan Proyek Golden Dome Pentagon mengungkapkan bahwa AS mengalami kekalahan konsisten dalam simulasi perang melawan Cina. Rudal hipersonik...

Membaca Ya’juj dan Ma’juj dalam Konteks Dunia Modern

Pendahuluan Ya’juj dan Ma’juj merupakan salah satu tanda besar menjelang kiamat dalam perspektif Islam. Fenomena ini tidak hanya disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an (QS Al-Kahfi: 94-98), tetapi juga dijelaskan dalam berbagai hadits shahih Nabi Muhammad SAW. Sejak masa ulama klasik hingga pemikir kontemporer, Ya’juj dan Ma’juj menjadi tema penting dalam kajian eskatologi Islam. Salah satu karya modern yang secara khusus membahas fenomena ini adalah buku Ya’juj dan Ma’juj pada Zaman Modern karya Syeikh Imran N. Hosein. Artikel ini merupakan saduran dan penjelasan ulang dari pandangan beliau, ditulis dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami, tanpa mengubah kerangka pemikiran aslinya. Syeikh Imran menegaskan bahwa Ya’juj dan Ma’juj bukan mitos atau sekadar kisah masa lalu, melainkan fenomena nyata, historis, dan relevan dengan dinamika geopolitik serta sistem global di era modern. Latar Belakang dan Asal-Usul Ya’juj dan Ma’juj Al-Qur’an menjelaskan bahwa Ya’...