Pendahuluan
Dajjal, Hadis, dan Konsep “Penglihatan Hati"
Fenomena Dajjal dalam perspektif Islam selalu menjadi topik yang sarat makna, tidak sekadar kisah eskatologis tetapi juga sebagai refleksi terhadap realitas spiritual dan sosial umat manusia. Dari ‘Ubadah bin Ash Shamit, Nabi Muhammad SAW bersabda:
"Sungguh, aku telah menceritakan perihal Dajjal kepada kalian, hingga aku khawatir kalian tidak lagi mampu memahaminya. Sesungguhnya Al Masih Dajjal adalah seorang laki-laki yang pendek, berkaki bengkok, berambut keriting, buta sebelah, matanya tidak terlalu menonjol dan tidak pula terlalu tenggelam. Jika kalian merasa bingung, maka ketahuilah bahwa Rabb kalian tidak buta sebelah."
(H.R. Bukhari, Kitabul Fitan, Bab Dzikrid Dajjal Jilid 13 hal 91)
Dari hadits lain yang diriwayatkan Anas RA, Rasulullah SAW menegaskan:
"Di antara kedua matanya termaktub tulisan 'kafir'. Dan dapat dibaca oleh setiap muslim, baik yang melek huruf maupun tidak."
(H.R. Muslim Jilid 18: 59–61)
Simbolisme ini bukan sekadar tentang fisik Dajjal, melainkan menekankan “mata hati” sebagai pusat penglihatan spiritual. Hati yang hidup dapat melihat kebenaran, sementara hati yang mati tetap buta meskipun mata fisik bekerja sempurna. Inilah esensi yang Sheikh Imran Hosein tekankan dalam ceramah-ceramahnya: Dajjal menyerang epistemologi manusia modern, yang cenderung hanya mengandalkan pengamatan eksternal, sementara mengabaikan penglihatan internal melalui hati.
Membaca Dajjal dalam Konteks Modern
Dalam dunia modern, Dajjal tidak selalu hadir dalam rupa fisik literal, tetapi muncul sebagai simbol dominasi, propaganda, dan manipulasi ideologis. Fenomena ini menyerang umat melalui sistem informasi, media, politik, dan ekonomi. Seperti yang disebutkan, mata kiri Dajjal bisa melihat, namun mata hati banyak manusia modern tertutup, sehingga mereka gagal membedakan kebenaran dari kebatilan.
Konsep “SchoolBoy” yang disinggung oleh Sheikh Imran Hosein menjadi ilustrasi bagi individu yang secara formal beragama tetapi tidak memiliki kesadaran kritis atau spiritual. Ketika Dajjal berdiri di Yerusalem dan mengaku sebagai Mesias, sebagian orang Muslim yang lemah imannya—“SchoolBoy”—tidak mampu membaca tanda “kafir” di dahinya. Sebaliknya, orang beriman yang hatinya hidup, seperti Abu Bakar Shiddiq, dapat mengenali tanda tersebut, menunjukkan perbedaan eskatologis antara iman hakiki dan sekadar identitas formal.
Hati: Mata yang Sebenarnya
Al-Qur’an menekankan bahwa kebutaan bukan berada pada mata fisik, tetapi pada hati dalam dada (Q.S. Al Hajj: 46):
"Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada."
Dalam konteks ini, Dajjal dapat dimaknai sebagai ujian bagi manusia yang mengandalkan logika formal atau penglihatan eksternal semata, tanpa membangun kesadaran spiritual. Fenomena ini relevan dengan tantangan modern, di mana informasi sering kali menyesatkan dan membingungkan umat, terutama ketika dikemas dalam kemasan ilmiah, media, atau teknologi mutakhir.
Simbolisme Huruf “Kafara” dan Penglihatan Mukmin
Tulisan “Kafara” di dahi Dajjal menjadi simbol kebenaran yang hanya bisa dibaca dengan hati yang hidup. Hal ini menegaskan bahwa pengetahuan sejati bukan hanya sekadar kemampuan membaca huruf atau mengakses data, tetapi kemampuan menilai realitas melalui iman dan akal spiritual.
Sheikh Imran Hosein menekankan bahwa setiap Mukmin akan mampu membaca tanda ini, terlepas dari tingkat pendidikan atau status sosial. Ini menekankan pentingnya pendidikan spiritual, pemahaman Al-Qur’an, dan kesadaran etis dalam menghadapi fitnah besar di akhir zaman.
Relevansi Eskatologis di Zaman Modern
Fenomena Dajjal dapat dibaca sebagai refleksi peradaban modern yang menekankan materialisme, logika dingin, dan dominasi ideologi tertentu. Dunia modern, dengan sistem politik, media, dan ekonomi globalnya, menciptakan medan bagi ujian Dajjal: orang yang hatinya mati terperangkap oleh propaganda, sementara yang hatinya hidup mampu menembus kebohongan.
Dengan pemahaman ini, umat Islam diingatkan untuk:
- Menghidupkan hati melalui doa, ibadah, dan tafakur.
- Mengasah kesadaran kritis terhadap informasi dan sistem sosial-politik.
- Memperkuat iman agar bisa mengenali fitnah modern yang bersifat sistemik dan ideologis.
Pengajaran dan Refleksi
Fenomena Dajjal bukan hanya cerita masa depan, tetapi simbol ujian spiritual yang nyata di zaman modern. Umat diingatkan untuk memeriksa hati, bukan hanya mata fisik; menilai bukan hanya dengan penglihatan eksternal, tetapi dengan kepekaan spiritual dan rasionalitas yang seimbang.
Sebagai pengingat: “Mata yang buta adalah hati yang mati”, dan setiap Mukmin diberi kesempatan untuk membaca tanda Dajjal melalui hati yang hidup. Ini adalah esensi epistemologi Islam yang membedakan antara pengetahuan formal dan pemahaman spiritual hakiki.
Reminder
- Temukan pemahaman mendalam tentang Dajjal, fitnah akhir zaman, dan tanda-tanda spiritual di buku Dajjal, The Qur’an, and Awwal Al-Zaman – Imran N. Hosein.
- Jangan hanya mengandalkan informasi eksternal; hidupkan hati melalui kajian Al-Qur’an dan Hadits.
- Reminder: Imunitas spiritual bukan diwariskan, tetapi dibangun melalui ilmu, doa, dan kesadaran hati.
Rujukan
- Hadits Shahih Bukhari, Kitabul Fitan, Bab Dzikrid Dajjal Jilid 13 hal 91
- Hadits Shahih Muslim Jilid 18: 59–61
- Sheikh Imran N. Hosein, Catatan Ceramah Ringkas
Disclaimer
Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi, refleksi intelektual, dan kajian keislaman, khususnya dalam bidang eskatologi Islam. Pandangan yang disampaikan merupakan hasil sintesis dari Al-Qur’an, Hadis Shahih, serta pemikiran dan ceramah Sheikh Imran N. Hosein, dan tidak dimaksudkan sebagai fatwa, keputusan hukum, atau pernyataan resmi lembaga keagamaan mana pun.
Pembaca dianjurkan untuk tetap melakukan kajian lanjutan, merujuk kepada ulama yang kompeten, dan menggunakan kebijaksanaan pribadi dalam memahami isu-isu akhir zaman yang bersifat kompleks dan multi-tafsir.
Ditulis Oleh
Adi Mahardika, S.I.Kom.
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf

Komentar
Posting Komentar