Pendahuluan
Selama beberapa tahun terakhir, dominasi dolar Amerika Serikat (USD) sebagai mata uang cadangan global dan alat utama transaksi internasional menghadapi tantangan yang semakin nyata. Sejumlah negara berkembang dan besar mulai mencari alternatif terhadap dominasi dolar dalam perdagangan internasional dan penyimpanan cadangan devisa. Salah satu kelompok yang menjadi pusat dinamika ini adalah BRICS — sebuah aliansi ekonomi yang awalnya terdiri dari Brasil, Rusia, India, China dan Afrika Selatan — yang kini tengah diperluas dengan keanggotaan negara lain dan gagasan mata uang internasional baru.
Fenomena ini sering disebut dedolarisasi, yaitu upaya mengurangi ketergantungan negara-negara terhadap dolar AS sebagai alat pembayaran internasional. Dalam artikel ini, kita akan membahas apa makna dari “24 negara telah bergabung melawan dolar”, latar belakangnya, serta implikasi geopolitik dan ekonomi global di masa depan.
Apa Itu “Melawan Dolar”?
Secara sederhana, istilah melawan dolar dalam konteks ini bukan berarti konflik militer atau permusuhan langsung terhadap Amerika Serikat, melainkan gerakan ekonomi dan finansial di mana banyak negara mulai melakukan transaksi tanpa menggunakan dolar AS sebagai mata uang utama.
Sejak Perang Dunia II, dolar telah menjadi dominan karena kekuatan ekonomi AS, stabilitas politiknya, dan peran Federal Reserve dalam sistem keuangan global. Namun dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah sanksi dan gejolak politik global, sejumlah negara mencari mekanisme transaksi alternatif yang tidak bergantung pada dolar.
BRICS dan Dedolarisasi
BRICS menjadi pionir dalam upaya ini. Kelompok ini sejak awal telah menunjukkan minat untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dalam perdagangan antar anggota. Beberapa langkah yang sudah ditempuh meliputi:
- Pembayaran bilateral dalam mata uang lokal antaranggotanya.
- Pembentukan sistem pembayaran internasional alternatif selain SWIFT yang lebih banyak menggunakan dolar, seperti Cross-Border Interbank Payment System (CIPS).
- Diskusi tentang kemungkinan mata uang bersama atau sistem cadangan berbasis emas / suku bunga stabil untuk perdagangan lintas BRICS.
Upaya seperti ini merupakan bentuk dedolarisasi yang lebih struktural, berupaya menciptakan arsitektur keuangan global yang multipolar, tidak hanya bergantung pada kekuatan ekonomi satu negara atau satu mata uang.
“24 Negara” – Perekrutan Kelompok Baru
Menurut sejumlah laporan dan analisis, kelompok BRICS tengah mengalami ekspansi yang signifikan, dengan negara-negara baru menunjukkan minat untuk bergabung dalam kerangka kerja sama tersebut. Misalnya, Arab Saudi, Iran, Argentina, Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, dan negara lain dilaporkan tertarik untuk memperluas kerja sama dengan BRICS. Laporan awal dari media internasional menyebut bahwa total negara yang menyatakan minat bisa mencapai 24 negara atau lebih.
Penambahan anggota baru ini menunjukkan bahwa banyak negara melihat manfaat dalam berkolaborasi secara ekonomi dan diplomatik dalam kerangka kerja yang lebih besar daripada aliansi tradisional. Hal ini berkaitan dengan keinginan bersama untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dan mendapatkan leverage politik serta finansial yang lebih baik di panggung global.
Dedolarisasi di ASEAN dan Negara Berkembang
Gerakan untuk mengurangi penggunaan dolar tidak hanya terjadi di BRICS. Beberapa negara ASEAN seperti Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura dan Thailand juga mulai menunjukkan tanda-tanda dedolarisasi, terutama dalam perdagangan bilateral dan penyimpanan cadangan. Tujuan utamanya adalah mengurangi risiko nilai tukar, meningkatkan stabilitas ekonomi regional, dan menguatkan mata uang lokal.
Menurut studi ilmiah, dedolarisasi muncul karena dominasi dolar memberikan dampak negatif bagi negara-negara berkembang yang bergantung pada dolar AS, menyebabkan ketidakstabilan ekonomi jika terjadi krisis global. Oleh karena itu, negara-negara ini mulai memprioritaskan mata uang lokal mereka dalam transaksi bilateral untuk menekan ketergantungan pada mata uang asing.
Apakah BRICS Sudah Mengalahkan Dolar?
Meski dorongan global tampak kuat, dominasi dolar AS masih sangat besar. Beberapa indikator menunjukkan bahwa dolar masih dipakai secara luas sebagai cadangan devisa dan alat pembayaran global. Bahkan setelah upaya dedolarisasi, dolar AS tetap memegang peran signifikan dalam transaksi internasional.
Namun demikian, tren penggunaan mata uang alternatif seperti yuan China, euro, dan kesepakatan perdagangan bilateral di luar dolar semakin meningkat. Hal ini menunjukkan bahwa dominasi dolar mungkin tidak runtuh secara langsung dalam jangka pendek, tetapi posisinya mulai tergerus secara bertahap seiring negara-negara mengembangkan sistem dan kebijakan baru.
Ambisi Mata Uang Global Baru
Seiring dengan ekspansi BRICS dan negara mitra yang terus berkembang, muncul pembicaraan tentang pembentukan mata uang global baru atau setidaknya sistem transaksi internasional yang lebih adil dan multipolar. Meskipun rencana konkret seperti peluncuran mata uang global ini masih dalam tahap awal dan akan memerlukan waktu panjang untuk terwujud, gagasan tersebut menjadi simbol kuat dari perubahan paradigma global dalam sistem keuangan internasional.
Tak sedikit analis ekonomi internasional berpendapat bahwa pengembangan sistem baru harus memperhatikan aspek stabilitas ekonomi, hubungan politik antarnegara, serta mekanisme cadangan devisa agar dapat bersaing dengan kekuatan dolar. Sulitnya menemukan konsensus mata uang tunggal global menunjukkan kompleksitas tantangan yang dihadapi.
Dampak Global & Masa Depan
Jika tren dedolarisasi terus berkembang, beberapa dampak potensial di masa depan antara lain:
- Diversifikasi cadangan devisa internasional, di mana bank sentral menyimpan lebih sedikit dolar dan lebih banyak mata uang lain atau komoditas seperti emas.
- Perubahan pola perdagangan global, di mana transaksi tidak lagi dominan menggunakan dolar AS, tetapi menggunakan mata uang lokal atau alternatif.
- Perubahan geopolitik, di mana negara-negara berkembang memperkuat hubungan satu sama lain melalui sistem finansial baru.
- Potensi stabilitas ekonomi regional yang lebih kuat bagi negara-negara yang berhasil mengurangi ketergantungan pada dolar.
Namun demikian, perubahan ini kemungkinan akan terjadi bertahap karena banyak faktor ekonomi, politik, dan struktural yang melibatkan lebih dari sekadar keputusan satu negara atau satu blok negara saja.
Makna Perubahan Sistem Global dalam Perspektif Akhir Zaman
Rekomendasi Bacaan & Koleksi Terkait
- Buku Dajjal, The Qur’an and Awwal al-Zaman — Imran N. Hosein
- Buku The Age of Cryptocurrency – Paul Vigna & Michael J. Casey (tentang sistem keuangan digital).
- Studi tentang Dedolarisasi & Masa Depan Sistem Keuangan Global.
- Artikel dan literatur tentang BRICS, perdagangan internasional, mata uang global, dan geopolitik ekonomi.
Rujukan
- Dajjal, The Qur’an and Awwal al-Zaman — Imran N. Hosein.
- Diskusi “24 nations align against US dollar” dan upaya BRICS memperluas aliansi.
- Artikel DW: dedolarisasi dan peran negara seperti China, Saudi, Brasil.
- PAB Indonesia: BRICS dan upaya dedolarisasi global.
- Kontan: dominasi dolar masih kuat meski BRICS mendorong alternatif.
- Kompas.id: ambisi negara mengurangi ketergantungan dolar.
- Brief.id: gagasan mata uang BRICS berbasis emas & alternatif sistem.
Disclaimer
Artikel ini bersifat edukatif dan informatif. Konten berdasarkan sumber yang dapat dipercaya dan analisis umum, bukan prediksi pasti atau saran investasi.
Ditulis Oleh
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf
Komentar
Posting Komentar