Pendahuluan: Sejarah Manusia dan Ambisi Ketuhanan
Sejarah manusia bukan sekadar rangkaian pergantian tokoh dan peradaban. Di balik pergantian zaman, terdapat pola yang terus berulang: pergulatan antara tauhid dan ambisi ketuhanan. Sejak awal penciptaan manusia, Al-Qur’an menggambarkan adanya konflik mendasar antara ketaatan dan kesombongan. Iblis menolak tunduk bukan karena tidak mengenal Tuhan, tetapi karena enggan mengakui otoritas-Nya. Di titik inilah benih ambisi ketuhanan muncul: keinginan untuk menentukan kebenaran sendiri, menggantikan kehendak Ilahi dengan kehendak makhluk.
Manusia diturunkan ke bumi sebagai khalifah, pemelihara dan pengelola. Namun dalam perjalanan sejarah, sebagian manusia tidak puas menjadi hamba sekaligus khalifah. Mereka ingin menjadi pusat kebenaran itu sendiri. Dari sinilah lahir figur-figur yang bukan sekadar penguasa politik, melainkan simbol ambisi untuk mengambil posisi Tuhan dalam kehidupan manusia.
Artikel ini menelusuri pola tersebut: dari Namrud dan Firaun sebagai simbol kekuasaan absolut, hingga transformasinya menjadi sistem global modern yang oleh sebagian ulama kontemporer dipahami sebagai manifestasi Yakjuj-Makjuj dalam bentuk peradaban. Di ujungnya, muncul proyek yang sering disebut sebagai Tatanan Dunia Baru, sebuah cita-cita lama dalam wajah yang baru.
Namrud vs Nabi Ibrahim: Klaim Ketuhanan dan Sentralisasi Kekuasaan
Dalam tradisi Islam, Namrud dikenal sebagai penguasa yang secara terang-terangan menantang konsep ketuhanan. Ia tidak hanya memerintah secara politik, tetapi juga mengklaim otoritas atas hidup dan mati. Dialognya dengan Nabi Ibrahim bukan sekadar debat teologis, melainkan benturan antara tauhid dan kekuasaan absolut.
Namrud mewakili fase awal ambisi ketuhanan dalam bentuk personal. Ia adalah figur yang memusatkan seluruh otoritas pada dirinya. Kebenaran ditentukan oleh kehendaknya. Hukum adalah ucapannya. Rakyat hidup dalam struktur yang sepenuhnya bergantung pada pusat kekuasaan.
Namun, ketika Nabi Ibrahim menghancurkan berhala dan menantang klaim ketuhanannya, yang runtuh bukan hanya simbol fisik, melainkan legitimasi spiritual kekuasaan itu sendiri. Namrud akhirnya hilang dari panggung sejarah. Tetapi ide di baliknya, bahwa manusia dapat mengambil posisi Tuhan dalam mengatur hidup orang lain, tidak ikut lenyap.
Di sinilah pola mulai terlihat: tokoh bisa hancur, tetapi sistem dan gagasan bisa bertahan, berubah bentuk, dan muncul kembali dalam konfigurasi yang berbeda.
Firaun vs Nabi Musa: Negara Absolut dan Penghambaan Manusia
Jika Namrud adalah simbol ambisi ketuhanan personal, maka Firaun adalah simbol institusionalnya. Dalam kisah Nabi Musa, Firaun tidak hanya mengklaim keilahian, tetapi membangun negara yang menopang klaim tersebut. Ia memiliki aparat, struktur ekonomi, sistem propaganda, dan kelas elit yang memperkuat kekuasaannya.
Pernyataannya, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,” mencerminkan puncak absolutisme. Kebenaran bukan lagi ditentukan oleh wahyu, melainkan oleh kekuasaan negara. Bahkan penyihir-penyihir istana digunakan untuk menciptakan ilusi demi mempertahankan legitimasi.
Firaun menggabungkan tiga elemen penting: kekuasaan politik, kontrol ekonomi, dan manipulasi persepsi. Ia menindas Bani Israil, memperbudak mereka, serta memanfaatkan struktur sosial untuk menjaga stabilitas kekuasaannya. Namun seperti Namrud, ia pun runtuh, ditenggelamkan di Laut Merah bersama bala tentaranya.
Sekali lagi, figur hancur. Tetapi pola tetap hidup.
Dari Raja ke Jaringan: Transformasi Kekuasaan
Setelah era raja-raja absolut, ambisi ketuhanan tidak lagi selalu tampil dalam bentuk satu figur yang mengklaim diri sebagai tuhan. Ia berevolusi. Kekuasaan menjadi lebih tersembunyi, lebih sistemik, dan lebih sulit diidentifikasi.
Dalam sejarah, muncul berbagai jaringan tertutup, aliansi elit, dan struktur kekuasaan yang bekerja di balik layar. Fokusnya bukan lagi pada deklarasi terbuka tentang keilahian, melainkan pada pengendalian sistem: ekonomi, hukum, pengetahuan, dan opini publik.
Kekuasaan modern tidak selalu membutuhkan mahkota atau singgasana. Ia bekerja melalui lembaga, pasar global, institusi keuangan, media, dan teknologi. Jika Namrud dan Firaun memerintah dengan deklarasi langsung, maka sistem modern memerintah melalui ketergantungan. Manusia tidak dipaksa menyembah penguasa; mereka dibuat bergantung pada sistem yang dikendalikan oleh segelintir elit.
Inilah pergeseran penting: dari kekuasaan personal ke kekuasaan jaringan.
Yakjuj-Makjuj sebagai Sistem Modern
Dalam perspektif sebagian ulama kontemporer, termasuk Syeikh Imran Nazar Hosein, Yakjuj–Makjuj tidak semata dipahami sebagai entitas biologis yang muncul tiba-tiba, tetapi sebagai simbol peradaban yang dilepaskan, peradaban yang merusak keseimbangan bumi, mengeksploitasi sumber daya, dan membangun dominasi global.
Ciri-ciri Yakjuj-Makjuj dalam Al-Qur’an menggambarkan kerusakan yang meluas. Dalam konteks modern, sebagian penafsir melihat kemiripan dengan sistem global yang mendorong eksploitasi tanpa batas, konsumerisme ekstrem, dan ketergantungan struktural antarbangsa.
Teknologi yang tidak diimbangi moral, ekonomi berbasis riba yang menciptakan utang sistemik, serta kontrol informasi yang membentuk opini publik, semuanya membentuk struktur yang sulit dilepaskan. Manusia modern sering merasa bebas, tetapi pada saat yang sama terikat oleh sistem yang menentukan akses terhadap uang, pekerjaan, bahkan identitas digital.
Dalam kerangka ini, Yakjuj-Makjuj bukan sekadar “kaum perusak”, melainkan sistem global yang menciptakan dunia satu arah, di mana standar kebenaran, nilai, dan hukum semakin terpusat.
Pembahasan lebih rinci mengenai konsep ini dapat dibaca dalam artikel lanjutan kami tentang Yakjuj-Makjuj Modern sebagai Sistem Global, yang menguraikan bagaimana simbolisme kerusakan, eksploitasi, dan dominasi peradaban dipahami dalam konteks dunia kontemporer.
Tatanan Dunia Baru: Cita-Cita Lama dalam Wajah Modern
Istilah Tatanan Dunia Baru atau “New World Order” sering dipahami sebagai teori konspirasi. Namun secara konseptual, gagasan tentang dunia yang disatukan di bawah satu sistem bukanlah hal baru. Sejak dahulu, para penguasa bermimpi tentang hegemoni universal.
Perbedaannya adalah metode. Jika dahulu hegemoni dilakukan melalui ekspansi militer langsung, kini ia dapat dilakukan melalui ekonomi, teknologi, dan regulasi global. Dunia diarahkan menuju integrasi sistemik: satu arsitektur keuangan, satu standar hukum internasional, satu narasi global tentang hak, nilai, dan kebenaran.
Ambisi ini mengingatkan pada pola lama: sentralisasi kekuasaan, penghapusan batas, dan penggantian otoritas Ilahi dengan konsensus manusia global. Dalam konteks inilah sebagian kalangan melihat kesinambungan antara Namrud, Firaun, dan sistem modern. Bukan dalam bentuk literal yang sama, tetapi dalam pola ambisi yang identik: manusia ingin menjadi penentu tertinggi bagi manusia lainnya.
Penutup: Pola yang Berulang dan Pilihan Manusia
Sejarah menunjukkan bahwa figur-figur tiran selalu runtuh. Namun pola ambisi ketuhanan terus berulang dalam bentuk yang semakin kompleks. Dari raja yang mengklaim diri sebagai tuhan, hingga sistem global yang mengatur hampir seluruh aspek kehidupan, inti konfliknya tetap sama: siapa yang menjadi sumber kebenaran dan otoritas tertinggi?
Jika manusia kehilangan mata hati, maka sistem yang meniadakan Tuhan akan tampak rasional dan efisien. Tetapi efisiensi tanpa tauhid dapat berubah menjadi dominasi tanpa batas.
Artikel ini tidak membahas secara rinci fase akhir zaman seperti kemunculan Dajjal, Imam Mahdi, atau turunnya Nabi Isa, karena tema tersebut merupakan pembahasan tersendiri (akan dibahas dalam artikel lanjutan). Namun memahami pola dari Namrud dan Firaun hingga struktur global modern memberi kita satu pelajaran penting: ambisi ketuhanan selalu bertransformasi, dan ujian terbesar manusia bukan hanya menghadapi sosok tertentu, melainkan memilih antara tunduk kepada Allah atau tunduk pada sistem yang menggantikan-Nya.
Referensi Bacaan & Rujukan
1. Al-Qur’an
- QS. Al-Baqarah: 30 (Manusia sebagai khalifah)
- QS. Al-Baqarah: 258 (Dialog Nabi Ibrahim dan penguasa)
- QS. Al-Qashash: 38 (Klaim ketuhanan Firaun)
- QS. Yunus: 90–92 (Tenggelamnya Firaun)
- QS. Al-Kahfi: 83–99 (Yakjuj–Makjuj)
- QS. Al-Anbiya: 96–97 (Dilepaskannya Yakjuj–Makjuj)
2. Tafsir Klasik
- Tafsir al-Tabari – Muhammad ibn Jarir al-Tabari
- Tafsir Ibn Kathir – Ismail ibn Kathir
- Al-Jami' li Ahkam al-Qur'an – Al-Qurtubi
- Bagian penting untuk dikaji:
- Tafsir ayat Namrud (QS 2:258)
- Tafsir kisah Firaun
- Tafsir Yakjuj–Makjuj dalam QS Al-Kahfi & Al-Anbiya
3. Perspektif Eskatologi Kontemporer
Imran Nazar Hosein
- Buku: Jerusalem in the Qur'an
- Buku: An Islamic View of Gog and Magog in the Modern World
Interpretasi Yakjuj-Makjuj sebagai sistem modern merupakan pandangan kontemporer dan tidak mewakili konsensus seluruh ulama klasik.
4. Literatur Politik & Peradaban
Untuk mendukung analisis tentang sentralisasi kekuasaan dan sistem global:
- The Rise and Fall of the Great Powers – Paul Kennedy
- The Sovereign Individual – James Dale Davidson & Lord William Rees-Mogg
- The Fourth Turning – William Strauss & Neil Howe
Ini bukan kitab agama, tapi memperkuat sisi geopolitik dan transformasi sistem.
5. Referensi Bacaan
Jelajahi buku dan referensi terkait sejarah, tasawuf, geopolitik, dan akhir zaman. Temukan koleksi lengkap di Daftar Buku dan Referensi.
Disclaimer:
Artikel ini merupakan kajian reflektif berbasis sumber-sumber Islam klasik dan interpretasi kontemporer dalam memahami pola kekuasaan dan peradaban. Beberapa analisis bersifat perspektif (ijtihadi) dan tidak dimaksudkan sebagai tuduhan terhadap individu, kelompok, ras, atau negara tertentu. Istilah seperti “Yakjuj–Makjuj Modern” dan “Tatanan Dunia Baru” digunakan dalam kerangka teologis dan simbolik untuk membaca dinamika sejarah, bukan sebagai klaim konspiratif literal.
Ditulis oleh:
Pembelajar Islamic Eschatology dan Tasawuf

Komentar
Posting Komentar