Pendahuluan
Pembahasan tentang Bangsa Rum dalam hadits-hadits Rasulullah SAW sering kali menimbulkan kebingungan di kalangan umat Islam. Istilah “Rum” kerap dipahami secara simplistis sebagai bangsa Eropa atau peradaban Barat secara umum, tanpa telaah historis dan eskatologis yang memadai. Padahal, dalam tradisi Islam, penyebutan suatu bangsa dalam nubuat akhir zaman tidak pernah bersifat kebetulan, melainkan sarat dengan konteks sejarah, peradaban, dan arah perjalanan umat manusia menjelang Hari Akhir.
Rasulullah SAW menyampaikan bahwa umat Islam kelak akan mengalami fase aliansi sekaligus konflik besar dengan Bangsa Rum—sebuah paradoks yang menuntut pemahaman mendalam, bukan sekadar pembacaan literal. Siapakah sebenarnya Bangsa Rum yang dimaksud Nabi SAW? Apakah mereka identik dengan peradaban Barat modern, Kekaisaran Romawi kuno, atau entitas lain yang masih eksis hingga hari ini? Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika dinamika geopolitik global menunjukkan pola aliansi, peperangan, dan perebutan kekuasaan yang seolah mengulang skenario yang telah disabdakan lebih dari empat belas abad lalu.
Artikel ini berupaya menelaah makna Bangsa Rum dalam sabda Rasulullah SAW melalui pendekatan historis, geopolitik, dan eskatologis, sebagaimana dijelaskan oleh Sheikh Imran Hosein. Tujuannya bukan untuk memastikan kronologi akhir zaman secara spekulatif, melainkan untuk membantu pembaca memahami peta besar peradaban dan posisi umat Islam di dalamnya—agar tidak terjebak dalam kesalahan membaca realitas, terutama di masa yang penuh fitnah dan manipulasi narasi global.
Bangsa Rum: Antara Aliansi dan Konflik di Akhir Zaman
Fenomena akhir zaman dalam Islam tidak hanya berbicara tentang peristiwa spiritual, tetapi juga dinamika geopolitik dan peradaban dunia. Salah satu nubuat Rasulullah SAW yang paling sering dibahas dalam konteks ini adalah tentang Bangsa Rum—sebuah entitas yang disebut akan bersekutu dengan kaum Muslimin, namun pada saat yang sama juga menjadi pihak yang memerangi mereka di akhir zaman.
Pertanyaannya kemudian muncul: Siapakah sebenarnya Bangsa Rum itu? Apakah mereka masih eksis hari ini? Dan bagaimana mungkin umat Islam bersekutu dengan pihak yang kelak justru menyerang mereka?
Tulisan ini merangkum dan mengembangkan pandangan Sheikh Imran Hosein (SIH), dengan pendekatan historis, eskatologis, dan geopolitik, untuk membantu memahami persoalan ini secara utuh.
Nubuat Rasulullah SAW tentang Bangsa Rum
Dalam beberapa hadits sahih, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa kaum Muslimin akan menjalin persekutuan (hudnah) dengan Bangsa Rum. Namun, nubuat tersebut tidak berhenti di sana. Dalam kelanjutannya, Nabi SAW juga menubuatkan akan terjadi peperangan besar antara kaum Muslimin dan Bangsa Rum.
Disebutkan bahwa Bangsa Rum akan menyerang kaum Muslimin di bawah 80 panji (bendera). Dalam perang tersebut:
- Sepertiga pasukan Muslim akan melarikan diri dan tidak diampuni oleh Allah,
- Sepertiga lainnya gugur sebagai syuhada terbaik,
- Sepertiga sisanya akan meraih kemenangan.
Secara logis, nubuat ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana mungkin kaum Muslimin bersekutu dengan pihak yang kelak menyerang mereka?
Jawaban atas pertanyaan ini hanya bisa ditemukan dengan memahami siapa yang dimaksud Bangsa Rum, dan apakah istilah tersebut merujuk pada satu entitas tunggal atau beberapa entitas yang berbeda.
Sejarah Singkat Bangsa Rum
Secara historis, Bangsa Rum merujuk pada bangsa Romawi, yang berpusat di kota Roma (Italia). Awalnya, mereka adalah bangsa pagan yang menyembah dewa-dewi Yunani dan Romawi.
Ketika agama Kristen menyebar ke Kekaisaran Romawi, muncul Kaisar Constantine sebagai kaisar pertama yang memeluk Kristen. Di bawah kepemimpinannya, Kekaisaran Romawi kemudian mengalami pemisahan besar:
- Romawi Barat – berpusat di Roma, yang kemudian berkembang menjadi Eropa Barat Kristen (Katolik dan Protestan).
- Romawi Timur (Bizantium) – berpusat di Konstantinopel, menjadi kekaisaran Kristen Ortodoks Timur dan pesaing utama Persia.
Al-Qur’an sendiri menyinggung Bangsa Rum dalam Surah ar-Rum, khususnya pada peristiwa Ghulibatir Rum (kekalahan Rum). Menurut SIH, ayat ini tidak merujuk pada Romawi Barat, melainkan Romawi Timur (Bizantium).
Konstantinopel dan Pergeseran Pusat Bangsa Rum
Ketika Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan Konstantinopel pada tahun 1453, kekuasaan Bizantium berakhir. Namun, Bangsa Rum tidak lenyap, melainkan mengalami pergeseran geografis dan politik.
Menurut pandangan Ortodoks Timur sendiri, pewaris spiritual dan politik Bizantium berpindah ke Moskow. Inilah sebabnya muncul konsep “Moscow as the Third Rome” dalam tradisi Kristen Ortodoks.
Dari sinilah muncul pemahaman penting:
👉 Bangsa Rum tidak tunggal, melainkan memiliki beberapa manifestasi sejarah.
Tiga Kandidat Bangsa Rum
Dalam analisis SIH, terdapat tiga kemungkinan Bangsa Rum di dunia modern:
-
Rum Barat
Peradaban Barat modern: Eropa Barat, Amerika Serikat, NATO.
Mereka berakar dari Romawi Barat dan kini membentuk peradaban sekuler–militeristik. -
Rum Bizantium (Rum Kedua)
Kekaisaran Romawi Timur yang telah runtuh sejak penaklukan Konstantinopel. -
Rum Ketiga (Moskow / Rusia)
Pewaris Ortodoksi Timur Bizantium, dengan identitas Kristen Ortodoks yang kuat.
Aliansi dengan Bangsa Rum: Bukan NATO
Rasulullah SAW menyebut akan adanya aliansi antara kaum Muslimin dan Bangsa Rum. Namun, penting dicatat bahwa Nabi SAW tidak pernah menyebut NATO atau peradaban Barat modern.
Dalam Al-Qur’an (QS. Al-Maidah), Allah SWT melarang kaum Muslimin bersekutu dengan Kristen dan Yahudi yang saling bersekutu dalam permusuhan terhadap Islam. Fakta geopolitik hari ini menunjukkan bahwa:
- NATO dan Barat modern memiliki aliansi strategis dengan Israel,
- Mereka terlibat aktif dalam perang dan intervensi di dunia Islam.
Maka, hampir mustahil aliansi yang dimaksud Rasulullah SAW merujuk pada Barat dan NATO.
Aliansi dengan Rum Bizantium juga tidak mungkin, karena entitas itu sudah tidak ada.
Dengan demikian, satu-satunya kandidat yang tersisa adalah Rum Ketiga: Moskow (Rusia).
Penjelasan Sheikh Imran Hosein tentang Bangsa Rum di Akhir Zaman
Sheikh Imran Hosein menjelaskan secara langsung bagaimana memahami identitas Bangsa Rum dalam nubuat akhir zaman, termasuk perbedaan antara Rum Barat dan Rum Timur.
80 Panji dan Serangan Akhir Zaman
Lalu siapakah yang menyerang kaum Muslimin di bawah 80 bendera?
Jika kita melihat realitas geopolitik modern, justru NATO yang:
- Menyerang Afghanistan,
- Terlibat di Suriah,
- Menekan Iran,
- Mengintervensi wilayah Muslim lainnya,
- Melakukan operasi militer multinasional dengan puluhan negara sekutu.
Sebaliknya, Rusia tidak memiliki struktur aliansi global seperti NATO yang memungkinkan serangan di bawah 80 panji.
Dari sini, kontradiksi pun terpecahkan:
👉 Bangsa Rum yang bersekutu dan Bangsa Rum yang menyerang adalah dua Rum yang berbeda.
Aliansi kemungkinan terjadi dengan Rum Timur (Rusia), sementara serangan besar datang dari Rum Barat (NATO).
Pelajaran Eskatologis dan Kesadaran Umat
Nubuat Rasulullah SAW tentang Bangsa Rum bukanlah teka-teki politik semata, tetapi peringatan agar umat Islam tidak keliru membaca realitas akhir zaman. Dunia modern sering menyederhanakan konflik sebagai hitam-putih, padahal Islam mengajarkan analisis yang lebih dalam, historis, dan spiritual.
Memahami Bangsa Rum berarti memahami pergeseran peradaban, epistemologi kekuasaan, dan ujian terbesar umat di akhir zaman. Wallahu a‘lam bish-shawab.
Bacaan Lanjutan untuk Memahami Akhir Zaman
- Al-Qur’an, Dajjal dan Awal Zaman
- Surat Al-Kahfi dan Zaman Modern
- Metodologi untuk Mempelajari Al-Qur’an
- Dinar Emas dan Dirham Perak
- Sebuah Pandangan Islam Mengenai Ya’juj dan Ma’juj di Dunia Modern

Komentar
Posting Komentar